Pak Kerempeng

      Oleh: Maryam Zakaria




“Kapan hasil tes darah itu bisa diambil Key?”
Aku hanya diam. Bukan aku tak mendengar atau tak peduli dengan pertanyaan Kepala Sekolah, hanya saja ada sesuatu yang membuatku berpikir setelah pulang dari labolaorium itu. Tempat di mana aku baru saja menjalani pengambilan darah untuk pemeriksaan trombosit dan anti amoeba setelah tadi malam memeriksakan diri ke dokter atas keluhan gangguan pencernaan yang telah kuderita selama tiga tahun terakhir.

“Key, sabar ya. Jangan sedih, Allah bersamamu.”
Kusambut nasehat itu dengan senyuman hangat. Perlahan kuraba bekas pengambilan darah itu di lengan kananku sambil menatap wajah teduh di hadapanku. “Kekey tidak apa-apa kok Bu. Sebelum pengambilan darah tadi, Kekey memang takut. Sebab sebelumnya tak pernah menjalani pengambilan darah seperti itu. Sekarang Kekey tidak takut lagi. Semoga Kekey bisa sabar menunggu dan menghadapi hasilnya nanti. Tapi….”

“Kenapa?” sepasang kening di depanku sedikit berkerut.
“Ada yang membuat saya berpikir Bu.” Kuperbaiki posisi duduk sebelum melanjutkan cerita. “Kok bisa ya orang yang bekerja di dunia kesehatan itu menderita kekurangan gizi?”
“Maksud kamu?”
“Tadi sebelum pengambilan darah, saya harus menunjukkan dua lembar kertas yang diberikan dokter tadi malam. Lalu membayar pemeriksaan di meja itu juga. Ibu tahu tidak, keadaan laki-laki yang bertugas di meja itu sepertinya sangat bertolak belakang dengan dunianya. Dia terlihat sangat kurus, kulitnya kecokelatan dan rambutnya berdiri. Dia seperti orang yang baru saja tersambar petir.”



Kudengar Bu Nani lirih beristighfar dan geleng-geleng kepala. “Bisa-bisanya kau memikirkan itu Key, di saat kamu sendiri belum mengetahui keadaan pasti soal kesehatanmu sendiri.”
“Maaf Bu. Selama ini saya memang bukan orang yang suka memperhatikan keadaan diri orang lain, apa lagi dia laki-laki. Tapi keadaannya yang sangat bertolak belakang dengan dunianya itu yang membuat saya tak habis pikir. Ia bekerja di dunia kesehatan, mestinya ia juga bisa menjaga kesehatan dirinya. Iya kan Bu?”
“Kamu sendiri bagaimana Key?”
“Iya, saya memang agak kurus Bu. Tapi saya kan masih kelihatan merah, dan masih terlihat segar.”
“Sudahlah, pikirkan saja kesehatanmu. O iya, kapan hasilnya bisa diambil?”
“Pemeriksaan trombosit insya Allah besok Bu. Dan pemeriksaan anti amoeba mungkin pekan depan,” aku menatap wajah Bu Nani dalam-dalam. “Bu, bagaimana kalau ternyata penyakit saya ini parah?”

“Kenapa juga baru periksa sekarang Dek? Tiga tahun itu waktu yang terlalu lama untuk menumpuk penyakit. Mestinya kamu melakukan pemeriksaan setelah mengalami pendarahan itu.” Bu Nani beranjak ke pintu. “Semoga semua baik-baik saja Key,” katanya sebelum benar-benar meninggalkan aku duduk sendiri di ruang kerjanya.
Selain menjadi atasanku di tempat kerja, Bu Nani adalah pemilik kos yang kutempati, selain itu, telah lebih dari sepekan beliau menjadi guru mengajiku. Itulah yang membuatnya kecewa. Mestinya masalah biaya yang menghambat keinginanku untuk memeriksakan masalah dalam kesehatan dalam tubuhku ini kuceritakan padanya. Sebab ia selalu bilang siap membantuku selagi ia mampu. Ah, Bu Nani selalu sangat perhatian padaku. 

“Apa hasil pemeriksaan sudah bisa saa peroleh sore ini?” tanyaku pada laki-laki bertubuh kurus itu. Aku lupa namanya, lebih tepatnya aku tak tahu. Jadi untuk sementara kupanggil saja ia Pak Kerempeng. Meski dalam hati atau di hadapan Bu Nani yang selalu menanyakan kesehatanku.
“Atas nama Kireyna Az-Zahra?,” ia balik bertanya.
Aku mengangguk. Diam-diam aku berpikir, bisakah ia mengingat semua pelanggan labolatorium ini? Kulihat lelaki itu beranjak sebentar dari tempat duduknya. Masuk ke sebuah ruangan, lalu kembali lagi dengan sebuah amplop putih bergaris merah jambu di sisi atasnya.
“Ini hasilnya Bu. Untuk periksaan anti amoeba insya Allah nanti kami beritahukan lewat sms. Boleh kami tahu nomor HP Ibu?”
“Paling lama berapa hari ya Pak?” tanyaku setelah menyebutkan nomor HP yang dimintanya tadi.
“Sabar ya Bu. Insya Allah tidak lebih dari dua pekan.”
Aku mengangguk pelan. Sejurus kemudian pamit dari ruangan itu. Ada sesuatu yang merambat naik ke dalam hatiku ketika melangkah keluar dari labolatorium itu. Aku takut. Takut mengetahui hasil pemeriksaan darah yang berada di tanganku, dan takut membayangkan hasil pemeriksaan yang nanti akan diberitahukan lewat HP itu. Ibu.... ah, tidak. Ibuku tak boleh tahu soal pemeriksaan ini. Kecuali jika hasil pemeriksaan menyatakan bahwa aku baik-baik saja.

Kuseberangi jalan yang sore itu masih ramai oleh kendaraan yang lalu-lalang. Kuputuskan untuk sholat maghrib di masjid yang berada tak jauh dari labolatorium. Setelah berwudhu aku duduk di dalam masjid. Belum berniat membuka amplop hasil pemeriksaan yang kuterima tadi. Aku takut tak bisa menerima hasil penelitian labolatorium itu.
Tuhanku, aku merasa baik-baik saja. Tapi... bagaimana jika benar ada penyakit yang bersarang di dalam perutku ini? Pendarahan yang kadang terjadi di kamar kecil saat aku.... aku menutup wajah dengan kedua tangaku mengingat gumpalan darah merah gelap itu. Aku ingin menangis tapi azan maghrib yang saat itu juga berkumandang dari dalam masjid seakan mampu membendung air mataku. Di masjid yang tidak terlalu besar itu, Sholat maghrib berlangsung dengan sangat khitmad. Satu-satunya do’a yang kupanjatkan berulang kali adalah kesehatanku. Berharap semoga semua baik-baik saja dan Ibu tak perlu tahu hingga kedua pemeriksaan itu telah berada di tanganku. 

Kulangkahkan kaki keluar masjid. Langit senja telah berganti langit yang akan dipenuhi bintang gemintang. Tiba-tiba sepasang pendengaranku menangkap derap langkah kaki yang semakin jelas. Aku menoleh ke arah suara itu. Dan benar saja, seorang anak laki-laki yang kira-kira berumur enam tahun, nampak sedang berlari ke arahku. Sesekali ia berhenti dan menoleh ke belakang. Beberapa meter di belakangnya nampak berdiri sesosok pria yang tidak terlalu tinggi dan agak gemuk, seperti sedang memberikan jempol pada anak itu. Selain aku tak punya niat mencari tahu siapa pria itu, cahaya putih dari lampu taman juga tak mampu memperjelas wajah laki-laki itu.

“Kak…,” anak kecil itu menyodorkan sebuah amplop setibanya ia di depanku.
Seketika batinku beristighfar setelah mengetahui identitas benda yang berada ditangan anak itu. “Terima kasih ya Dek. Amplop ini memang milik Kakak, Adek menemukan amplop ini di mana?”
“Bukan saya,” katanya sambil memutar-mutar peci di kepalanya.
“Lalu siapa?”
“Tuh!” anak itu menunjuk ke arah laki-laki yang sejak tadi berdiri di pintu gerbang halaman masjid. Mungkin menyadari kebingunganku, ia pun memberi penjelasan. “Om di sana itu yang menyuruhku menyerahkan amplop ini sama Kakak. Dia janji akan memberiku hadiah kalau tugasku sudah selesai. Jadi... aku pergi dulu yah.”
“Eh, tunggu dulu. Terima kasih ya sudah membawa amplop ini, dan tolong sampaikan juga ucapan terima kasih Kakak pada orang itu.”

Anak itu berlari ke arah laki-laki yang mungkin sedang menunggunya itu. Kusadari, hampir saja aku kehilangan amplop hasil pemeriksaan labolatorium itu sebelum aku tahu pasti apa hasil yang tertera di dalamnya. Mungkin tadi jatuh di halaman masjid. Tapi... dari mana laki-laki itu tahu kalau amplop ini milikku? Ah, bodohnya aku. Jamaah perempuan yang tadi sholat maghrib di masjid tadi kan hanya lima orang. Empat orang jamaah permpuan yang lain sudah nenek-nenek, lagi pula rumahnya berada di sekitar masjid. Jadi tak mungkin jika mereka yang membawa amplop itu. Hhmm... mungkin laki-laki tadi berpikir begitu.

Aku mempercepat langkah. Ingin segera pulang ke kos dan membaca hasil pemeriksaan darah yang tertera dalam amplop yang sudah kumasukkan ke dalam tas. Beberapa penjual makanan sudah mulai berdatangan. Sebagiannya mengambil tempat di pinggir jalan depan masjid masjid, tak jauh dari pintu gerbang. Aku tidak terlalu kaget melihat anak kecil yang membawa amplop tadi sedang makan di bangku panjang seorang penjual bakso. Ia mungkin sedang menikmati semangkuk bakso bersama seorang laki-laki yang tadi menjanjikan hadiah untuknya. Aku tak ingin menyapa, tak enak mengganggu mereka yang sedang makan. Hanya melambaikan tangan, ketika anak kecil itu tak sengaja menoleh ke arahku.

“Kakak!” teriak anak kecil itu.
Aku kaget. Bukan pada teriakan anak kecil itu, tetapi pada sosok laki-laki yang duduk di dekatnya. Ya, laki-laki itu rupanya Pak kerempeng, yang berkerja di labolatorium tempatku memeriksakan darah itu. Rupanya jaket itu membuatnya tampak agak gemuk, aku membatin.
Melihatku laki-laki itu hanya tersenyum sebentar lalu kembali menikmati baksonya. Keterkejutanku rupanya tidak berpengaruh apa-apa padanya. Ingin rasanya mengucapkan terima kasihkarena ia telah menemukan dan bersedia mengembalikan amplop itu, tapi rupanya ia terlampau cuek. Jadi, kuurungkan saja niatku. Aku berharap semoga saja anak kecil itu sudah menyampaikan ucapan terima kasihku padanya.
***
Tak seperti biasanya, sejak menunggu hasil pemeriksaan anti amoeba itu kurasakan hari-hari berjalan dengan sangat lambat. Meski bersyukur dengan hasil pemeriksaan trombosit-ku yang menyatakan bahwa tidak ada masalah dengan trombositku, dan semua masih dalam batas normal aku tetap saja khawatir. Pertanyaan teman-teman tentang hasil pemeriksaan itu selalu berusaha kuhindari. Sebab aku sendiri sebenarnya tak mau terbebani dengan apa pun kondisi kesehatanku.
“Bagaimana Key? Sudah ada pemberitahuan lewat sms atau telpon?” tanya Bu Nani sepulang sekolah siang ini. 

Aku tahu yang dimaksud Bu Nani adalah hasil tes labolatorium itu. Namun belum sempat aku menjawab pertanyaan Bu Nani, HP-ku berderit. Satu sms masuk dari nomor yang tak kukenal.
Kpd yth. Pelanggan lab Klinik Sehat. Kami menginformasikan bahwa hasil pemeriksaan atas nama Nn. Kireyna Az-Zahra telah selesai dan sudah dapat diambil. Terima kasih atas kepercayaan Anda.”
Aku menatap wajah Bu Nani setelah membaca sms itu.
“Ada apa Key?” tanya Bu Nani sambil merapatkan ke arahku. Kubiarkan ia meraih hp dan membaca sms tadi.
“Kekey takut Bu.”
“Takut apa sayang?” perempuan anggun dalam balutan jilbab biru langit itu menawarkan senyumnya padaku. “Ya, sudah. Kalau kamu tak ingin menjemput hasil pemeriksaan itu, biar Ibu saja yang ke sana. Kamu tunggu di kos sambil berdoa ya.”
Seketika aku menyambut penawaran dari Bu Nani itu dengan anggukan pasti. “Terima kasih Bu.” 

Maka aku pun menyerahkan selembar kertas yang harus diperlihatkan pada petugas yang ada di labolatorium sebelum menerima hasil pemeriksaan itu pada Bu Nani. Dengan tersenyum Bu Nani berkata, bahwa nanti sore ia akan berangkat ke labolatorium itu bersama suaminya.
Aku sangat bersyukur di kota ini dipertemukan dengan keluarga Bu Nani. Pak Yusuf, suami Bu Nani tak kalah baiknya dengan Bu Nani. Selain mengizinkan aku menempati salah satu ruangan di pavilyun rumahnya dengan biaya kos yang relatif murah, mereka juga hampir setiap hari menanyakan keadaanku, sudah makan atau belum dan sebagainya. Aku tak tahu akan bagaimana membalas kebaikan hati mereka. Bu Nani dan Pak Yusuf sudah seperti orang tua kedua bagiku. Bahkan kadang apa yang kuceritakan pada Bu Nani, tak segan-segannya kuceritakan juga pada Pak Yusuf. Pak Yusuf pernah menceritakan tentang keponakan Bu Nani yang telah mereka asuh sejak kecil dan telah dianggap sebagai anak. Aku mengerti bagaimana kasih sayang mereka pada anak asuhnya itu, sebab mereka belum dikaruniai anak di usia pernikahan yang telah memasuki tahun ke delapan belas. Mereka benar-benar orang tua asuh yang baik. 

Ah, tiba-tiba saja aku jadi ingat Ibu di kampung halaman. Kemarin Ibu menghubungiku lewat telpon. Ibu bilang akan menjengukku di kota ini sebab telah dua kali Ibu bermimpi hal buruk tentang diriku. Semoga saja bukan dalam pekan ini, batinku.
***
“Kireyna Az-Zahra,” Bu Nani membaca nama yang tertera di bagian depan sampul amplop yang dibawanya dari labolatorium. Tapi tak seperti dugaanku, Bu Nani tidak membuka sampul itu. Diberikannya amplop itu pada Pak Yusuf yangg duduk di dekatnya.
Suasana mendadak menjadi hening beberapa saat. Diam-diam kegelisahan merambat pelan ke dalam hatiku. Ada apa? Seperti apa hasil pemeriksaan anti amoeba itu? 

“Key,” Bu Nani membuka pembicaraan. “Sebelum kita membahas apa yang tertera di dalam amplop itu, Ibu mau memberitahukan sesuatu padamu.”
Aku memasang pendengaranku dengan sebaik-baiknya.
“Apa kau tahu siapa petugas labolatorium yang bertubuh kurus itu?”
Aku mengerutkan kening.
“Yang kau sebut kerempeng itu lho.”
Mulutku seketika membentuk huruf O sebelum akhirnya bertanya, “Kenapa Bu?”
“Dia adalah keponakan Bu Nani,” kali ini Pak Yusuf yang menjawab kebingunganku.
“Keponakan Ibu?”

Tak ada jawaban, tapi aku yakin bahwa aku tidak salah dengar. Seketika ada rasa bersalah sebab pernah menyebut orang itu dengan sebutan Pak Kerempeng. Mestinya aku tak menyebut nama orang dengan sebutan yang tidak baik. Kalau ternyata seperti ini jadinya... apakah Pak Yusuf, orang yang kuhormati itu tidak akan tersinggung? Bagaimana jika Pak Kerempeng itu adalah....
Aku menundukkan wajah sambil berkata, “Maafkan saya Pak, Bu. Saya memang salah. Mestinya....”
“Sudahlah Key. Kau memang harus merubah kebiasaan buruk itu. Tapi, ada hal yang lebih penting untuk kita bicarakan saat ini juga.”

“Apa harus sekarang Pak?” tanya Bu Nani pada suaminya.
Apa lagi yang akan dikatakan oleh mereka? Batinku dihujani tanda tanya. Tetapi aku telah siap jika ternyata ada dampak yang lebih buruk sebagai akibat dari kesalahanku itu.
“Sebenarnya kami sudah tahu siapa pria kerempeng yang kau maksud itu sejak kau memberitahu di mana kau memeriksakan darahmu. Tapi karena kami merasa hal itu tidaklah penting untuk dibicarakan, maka kami tak menceritakannya padamu,” Bu Nani menadatapku dalam-dalam. Kemudian melanjutkan ceritanya, “Laki-laki yang kau sebut kerempeng itu bernama Ridwan. Waktu kecil hingga SMA dia tinggal bersama kami. Kemudian sejak kuliah sampai sekarang ia memilih untuk punya rumah sendiri. Katanya ingin mandiri meski dalam sepekan tak terhitung berapa kali ia mengunjungi kami di rumah. Ketika kami ke sana, ia tampak kaget. Terlebih ketika mengetahui kalau kami hendak mengambil hasil tes darahmu.”

“Kaget? Kenapa? Apa hasil pemeriksaan darahku adalah yang paling buruk di antara semua darah yang diperiksa di tempat itu?” bergantian kupandangi wajah-wajah teduh di hadapanku.
“Tenang dulu Key,” Pak Yusuf menenangkanku.
“Tolong berikan amplop itu Pak, saya mau membacanya sendiri.”
Pak Yusuf menyerakan amplop itu padaku tanpa berkata apa-apa lagi. Aku segera membuka dan dengan tergesa kucari lembaran terakhir di mana hasil pemeriksaan itu berada. 

“Alhamdulillah.... negatif,” lirihku. Segera kupeluk Bu Nani erat-erat. Tapi tatapan dua pasang mata di hadapanku sepertinya masih menyisakan cerita.
“Key, jika Ridwan ingin menikahimu apa kau bersedia?”
Dugh!! Seketika pertanyaan Pak Yusuf seakan mendarat dengan paksa di pendengaranku. Kaget, aku kembali bertanya, “Maksud Bapak?”
“Tadi Ridwan bercerita, ketika kau ke labolatorium itu ia terkesan dengan kesantunanmu. Dan saat itu juga ia berdoa, jika kau jodohnya ia memohon untuk dimudahkan jalannya. Jika Ridwan ingin kau menjadi istrinya, apa kau bersedia?”

“Mungkin dia salah menilai saya Pak. Saya baru sepekan belajar agama, dan baru beberapa hari memakai jilbab,” aku menunduk, dan menggulung-gulung ujung jilbab dengan telunjukku. Lebih tepatnya, aku mencari alasan untuk menghindar dari pertanyaan itu. Terbayang di pelupuk mata sosok kerempeng yang sekilas pernah terkesan aneh di mataku. Menurutku kondisi tubuhnya sangat berlawanan dengan lingkungannya. Bekerja di lingkungan kesehatan mestinya membuatnya tampak sehat atau setidaknya lebih baik dari keadaannya sekarang. Dan aku tak suka orang yang menasehati atau berusaha untuk kebaikan orang lain sementara hal itu tak dapat ia terapkan pada dirinya sendiri.
***
Di luar dugaan, sehari setelah menerima pertanyaan dari Bu Nani dan Pak Yusuf itu, Ibuku datang dari kampung. Ibuku tiba di kos beberapa saat sebelum maghrib. Aku masih sempat menelpon Bu Nani, memberitahukan kedatangan Ibu dan meminta Bu Nani untuk tidak menceritakan pertanyaan dari Ridwan itu pada Ibuku. Aku ingin Ibu mengetahuinya setelah semua telah menjadi jelas. Dan soal pemeriksaan darah itu, biar aku sendiri yang akan menceritakannya di waktu yang tepat.
Aku juga berusaha menyembunyikan dilema dalam hatiku. Bagaimana tidak, Bu nani dan Pak Yusuf sudah kuanggap sebagai orang tuaku. Mereka sangat baik padaku. Dan seingatku belum ada satu pun kebaikan mereka yang sudah kubalas. Haruskah aku mengatakan bahwa aku bersedia menjadi istri lelaki kerempeng bernama Ridwan itu hanya karena ingin balas budi, sementara hatiku belum bisa menerima semua yang ada padanya?

“Key, kapan kau mau mengajak Ibu jalan-jalan?” suara Ibu membuyarkan lamunanku.
“Ee… Ibu mau jalan-jalan?” spontan aku bertanya balik.
Ibu mengangguk pasti. “Kapan saja kamu punya waktu, Ibu mau kok.”
Seketika muncul ide dalam kepalaku. Kurasa menceritakan hal-hal penting di saat-saat santai bisa membuat keadaan tidak terlalu tegang. “Kalau Ibu tidak capek, kita jalan-jalan usai sholat maghrib yah.”

Aku senang melihat anggukan dan senyuman Ibu.
Jadilah, usai sholat maghrib kuajak Ibu mengunjungi beberapa tempat di pusat kota. Tempat yang terakhir kami kunjungi adalah masjid yang berada tak jauh dari depan labolatorium tempatku memeriksa darah. Usai sholat Isya di masjid itu, aku teringat soal pemeriksaan darah itu. Ibuku bersyukur bahwa keadaanku baik-baik saja. Tetapi aku masih terbebani dengan pertanyaan Bu Nani dan Pak Yusuf kemarin.
Saat hendak pulang ke rumah, delman yang kami tumpangi lewat di depan labolatorium itu. Ibuku terus saja memandangi gedung bercat putih dengan jendela kaca hitam berukuran besar di depannya itu. “Itu namanya labolatorium Bu. Di tempat itu saya memeriksakan darah,” kataku sambil menunjuk ke arah labolatorium itu. “Mungkin untuk yang terakhir kalinya saya ke tempat itu,” kali ini suaraku
Tiba-tiba Ibuku berseru, “Key, tempat itu....”
“Ada apa Bu?” tanyaku bingung. Kusir delman pun mengurangi kecepatan delman.
“Ibu pernah bermimpi kita berdua keluar dari gedung itu bersama seseorang. Ya, kita bertiga Key....”
Lama kupandangi wajah Ibu yang terus saja memandangi labolatorium itu hingga delman kami berlalu dari tempat itu.
***
Pagi yang terburu-buru. Hari ini aku bangun pagi seperti biasanya, hanya saja setelah subuh tadi aku tak sengaja tertidur lagi. Ketika terjaga, aku teringat sarapan pagi yang belum kusiapkan sama sekali. Kuusahakan dalam hitungan menit, nasi goreng yang kusandingkan dengan segelas susu harus segera tersaji di atas meja. Sementara itu, seseorang yang entah sejak kapan duduk di depan makan telah berpakaian rapi. Ia terus saja menatap diriku yang lalu lalang di hadapannya. Ah, sebenarya aku malu sebab aku agak kesulitan mengikuti kebiasaannya bangun pagi sebelum subuh tiba. Sejak duduk dibangku SMA ia telah terbiasa mengawali harinya dengan tahajud dan tidak tidur lagi hingga pagi tiba.

“Kau tampak lebih cantik kalau lagi serius Dek,” katanya setelah menghabiskan sepiring nasi goreng buatanku.
Aku yakin ia hanya ingin menghiburku yang agak kacau pagi ini, karena itu aku tak menanggapi kata-katanya tadi. Lagi pula ini kali ke tiga ia mengatakan hal yang sama kepadaku. Dan mungkin saja hingga akhir nafas kebersamaan kami, ia akan mengatakan hal yang sama setiap kali aku selesai menyiapkan sarapan untuknya.
“Pergi dulu ya, kamu hati-hati di rumah. Kalau ada orang kerempeng datang mengetuk pintu, kamu jangan takut.”
“Maksud Mas?”
“Karena dia suamimu.”
Aku mencubit pinggangnya sampai lelaki kerempeng itu berteriak minta ampun.
Beberapa menit kemudian, kutemukan diriku berdiri dengan senyum yang merekah di depan rumah. Memandang ke satu arah, hingga tubuh kurus Mas Ridwan di atas motor hilang di balik pagar. [ ]

4 Response to "Pak Kerempeng"

  1. Akhi Dirman Al-Amin says:
    12:26:00 PM

    bagus. cuma penggambaran lelaki kerempang di awal ttg rambut yang seperti kena petir etc aku pikir terlalu berlebihan ya. itu saja kurangnya. Aku membayangkan, di mata gadis tokoh utama, lelaki kerempeng itu seperti kurang bisa merawat dirinya. bertolak belakang sekali dgn kenyataannya. itu saja.
    mungkin dengan memaparkan seperti apa 'penampakan' tokoh sang lelaki itu di awal akan bagus, sekalipun si gadis tokoh utama gpp menggambarkan lelaki kerempeng sekehendak hati dia, sbg bukti ketidak sukaannya :)

  2. Muhammad Firdaus Rahmatullah says:
    3:09:00 AM

    apresiatif!

  3. Unknown says:
    11:49:00 PM

    Overall bagus, saya tertarik untuk membacanya hingga akhir. Berberapa kesalahan tata cara penulisan mungkin lumrah. Namun sedikit tanggapan, ceritanya menurut saya antiklimaks. Irama yang sempat naik turun gara-gara hasil lab yang kececer kemudian sikap ibu bapak kos yang mencurigakan, lalu ucapan ibunya ketika melihat lab, diakhiri hanya dengan menikahi si pria kerempeng. Saya tadinya menantikan sebuah kejutan tentang si Kerempeng atau hasil labnya yang menyudahi cerita :) salam

  4. wahyudu says:
    11:42:00 AM

    Bagus cerpen nya