Anak Lelaki

Oleh: Rainiku

              Anak lelaki itu berdiri di depan emperan toko. Dia memainkan seruling. Indah. Indah sekali. Tak sampai beberapa menit banyak orang yang mengerumuninya. Ada orang yang ingin mendengar permainannya atau banyak orang yang hanya ingin mengetahui ada apa dengan kerumunan itu. Anak lelaki itu tetap tenang. Permainan serulingnya semakin menggebu, semakin indah. Dia memainkan berbagai jenis lagu. Klasik, pop, lagu nasional, lagu anak-anak, bahkan campur sari. Tiap kali dia selesai memainkan satu lagu, tepuk tangan penonton riuh rendah. Dia membungkuk tanda penghormatan. Penonton semakin membludak. Ada sekitar 30 orang bahkan lebih.
              Anak lelaki itu berumur kisaran 12 hingga 14 tahun. Rambut lusuh. Kaki dekil. Baju camping. Bau anyir. Kacamata hitam terlalu besar. Namun, permainan serulingnya luar biasa indahnya.
              “Bapak-bapak, Ibu-ibu, Adik-adik, Kakak-kakak, terima kasih sudah mau melihat saya bermain.” dia mulai angkat bicara setelah merasa jika banyak yang mengapresiasi permainannya.
              Izinkan saya untuk berbagi ilmu di sini. Sebab semua di dunia ini adalah ilmu. Saya bermain seruling, memindahkan not satu ke yang lainnya juga sebuah ilmu. Saya bisa memainkan nada Bethoven, Peterpan, Indonesia Raya, Balonku bahkan Sewu Kutho. Itu semua karena ilmu. Lihatlah ini! Ini sebuah kotak ajaib. Ilmu-ilmu yang saya miliki terangkum di sebuah kotak hitam ini. Jangan bayangkan ini kotak sulap. Sulap yang sering tampil di televisi dengan bermacam-macam nama. Atau sulap yang bisa membuat orang lupa akan dirinya atau sulap yang membiarkan pikirannya dibaca oleh orang lain! Ini berbeda Bapak, Ibu, Adik, Kakak…” dia berkicau sambil membawa kotak hitam itu ke arah penonton. Dia tersandung-sandung bahkan sesekali menabrak penonton. Berkali pun dia bilang maaf pada apa yang disentuhnya.
             
“Sudah lihat semua kan? Kotak ini asli. Tanpa rekayasa! Saya hanya ingin mengatakan jika ilmu yang saya miliki ini hanya seharga lima ribu rupiah! Cara bermain seruling dan not-not berbagai lagu ada di sini semua!” dia mengeluarkan isi kotak hitamnya itu. Ada sepuluh buku yang dikemas seadanya. Dia kembali menyodorkan buku-buku itu ke arah penonton. Namun, mereka bergeming. Hanya menatap anak lelaki itu dengan tatapan iba.
              “Ayolah, ilmu yang sungguh luar biasa ini hanya seharga lima ribu rupiah, hanya seharga semangkok bakso. Tidak sebanding dengan ilmu yang akan Anda dapatkan dengan membeli buku ini.” dia menarik napas panjang. “Baiklah, jika lima ribu Anda masih merasa keberatan, tak ada salahnya jika saya menghargai ilmu ini empat ribu rupiah! Hanya empat ribu!” dia terus mengoceh, tanpa ada yang peduli dengannya. Lalu, satu persatu penonton meninggalkannya.
              Semakin lama suara anak lelaki itu semakin mengecil. Suaranya layaknya hukum I Newton. Dia tak akan bersuara jika sekitarnya diam. Dengan mengusap peluh, dia kembali memasukkan buku-bukunya ke kotak hitam yang disebutnya ajaib tadi.
              “Hanya empat ribu rupiah kok, empat ribu rupiah saja, tak lebih!” dia mengulang-ngulang kalimat itu sepanjang perjalanan pulang. Orang-orang yang melihatnya hanya menyeringai. Tak lebih! Sambil sesekali menyilangkan telunjuknya di kening.

              Dia kembali bermain seruling esok paginya. Di tempat yang sama. Berangsur-angsur penonton kembali memadati tempat itu. Menikmati permainannya atau hanya ingin tahu. Kesempatan baik ini pun tak disiakan oleh pencopet kacangan yang tangannya menggerayangi setiap saku manusia yang lengah.
              “Selamat pagi semuanya, hari yang cerah bukan?” dia kembali memulai orasinya. Orang-orang itu masih terdiam di tempat. “Ayo, Bapak, Ibu, Adik, Kakak, Kakek, Nenek, kali ini saya ingin memainkan sebuah lagu. Silakan Anda menyebut lagu apa yang ingin Anda dengar, niscaya saya akan bisa memainkannya dengan indah dan baik!” jakunnya naik turun, dia gemetar karena sedari kemarin belum sesuap nasi yang memenuhi kebutuhan cacing-cacing di perutnya.
              You are not alone!”
              “Baik, baiklah saya akan memainkan lagu itu!” dia menarik napas. Perlahan tapi pasti. Semua menyimak karena permainannya sungguh indah.
              “Menarik bukan permainan saya?” dia terpaksa harus narsis. “Itu hanya pembukaan, karena intinya ada di kitab-kitab ini!” dia kembali mengeluarkan buku-buku usangnya. “Hanya seharga empat ribu rupiah, Anda akan mendapat ilmu yang luar biasa hebat!” dia kembali mengeluarkan kitab-kitab sucinya, memberikannya pada penonton sekenanya.
              “Perhatikanlah, ilmu ini akan sangat bermanfaat! Bayangkan jika anak, saudara, cucu, adik, kakak, bahkan istri Anda yang mungkin berjumlah banyak. Pasti sulit untuk menenangkannya, sulit untuk mengaturnya. Maka, hanya dengan empat ribu rupiah saja Anda bisa melakukannya dengan mudah, cukup kumpulkan saja mereka dengan formasi seperti ini, sebentar saja Anda akan mendapatkan perhatian. Tak perlu membagikan banyak uang, makanan atau apa pun! Cukup dengan empat ribu rupiah saja!” ceramahnya semakin menggebu. Dia lupa jika dia hanya bocah 12 tahun.
              Penonton pun masih seperti kemarin. Hanya melihatnya dengan tatapan iba, tanpa melakukan aksi simpati.
              “Ah iya, bagaimana jika ilmu yang hebat ini hanya seharga tiga ribu rupiah?” dia kembali menurunkan harga. “Hanya tiga ribu rupiah! Sama sekali tak mahal!” dia kembali mengoceh. Namun, tanggapan yang didapatnya pun sama seperti hari-hari lalu. Penonton itu memang kerjanya hanya menonton, tak lebih! Sementara suara anak lelaki itu semakin tercekat. Tak bisa lagi berteriak.
              Hujan mulai menitik. Dia berjalan pulang terseok-seok di atas sandal jepit tipisnya. Memanggul kotak hitamnya dengan jumlah buku yang masih lengkap.

              Di balai-balai gubuk kardusnya anak lelaki itu telentang memainkan kembali seruling usang satu-satunya. Dia teringat kelakuan penonton-penontonnya hari ini dan kemarin. Mereka sama saja. Dia tak tahu apakah orang-orang yang datang sama atau tidak, namun dia bisa merasakan bau tubuh mereka, irama tepuk tangan mereka, asap tembakau mereka, suara mereka. Dia menyimpulkan jika mereka orang-orang yang sama, walau dia tak tahu wajahnya sekali pun. Mereka hanya mau menikmati tanpa mau membeli. Budaya menonton orang Indonesia, tak ada bedanya dengan menonton bencana, hanya menunjuk-nunjuk, tak segan berfoto ria, berlenggak-lenggok di depan korban. Tanpa mau memberi bantuan sedikit pun. “Ah, kapan ini berubah?” gumamnya dalam hati. Hatinya meradang, mengutuk penonton-penonton itu. Pikirannya menerawang pada kelima adik-adiknya yang sedang tertidur pulas. Kelima adiknya terpaksa mencari sesuap nasi sendiri. Berjuang sendiri. Sementara ia, kakak tertua, sedikit pun tak mampu menghidupi kelima adiknya. Pikirannya semakin kacau.

              Hari ini kembali dia membawa kotak hitamnya. Dia tak pernah berpindah tempat, sebab hanya emperan toko itulah yang bisa ia jangkau dengan mudah. Tak jauh dari gubuknya. Tak banyak lubang di jalanan dan tak banyak tikungan. Ia kembali memainkan serulingnya, dia memainkan lagu yang berbeda dari biasanya. Dangdut. Itu pilihannya. Tak ada pilihan lain, karena dia pun harus melihat selera pasar. Dia dengar jika orang Indonesia masih tergila-gila dengan aliran musik ini.
              Seperti biasanya, banyak penonton yang datang. Mereka melenggak-lenggokan tubuhnya sesuai irama. Tak sedikit pula yang menyanyikan lirik lagunya. Mereka bergembira dan anak lelaki itu bisa merasakan aura kegembiraan yang tercipta karena permainannya.
              “Ayo, kita bergembira bersama-sama! Hanya dengan tiga ribu rupiah saja, kita bisa mendapatkan kegembiraan melebihi orang lain!” senyum anak lelaki itu melebar. Entah senyum kegetiran atau senyuman tulus.
              “Hai anak kecil, jangan meracau lagi! Teruskan saja bermain serulingnya!” suara salah satu penontonnya terdengar jelas. Dia terhenyak. Kaget. Merasa tersinggung. Memang benar, mereka hanya ingin menikmati permainannya saja. Tanpa mau membeli ilmu yang dia jual. Tanpa mau membayar sepeser pun. Kampret! Tanpa orasi lagi, dia menghempaskan buku-bukunya ke tanah. Mukanya memerah.
              “Baiklah, saya akan memainkan lagu dangdut sekali lagi. Bahkan berkali-kali!” irama suaranya naik turun. Emosinya tak terkontrol. Dia melepas kacamata hitamnya yang selalu bertengger di matanya. “Tahukah Anda? Mengapa setiap hari saya memakai kacamata yang kedodoran ini? Sebab mata saya buta. Saya tak pernah tahu warna pelangi, wajah orang tua saya, bentuk hidung saya, bentuk apa pun, bahkan bentuk seruling saya ini. Saya hanya bisa merasakan. Saya pun tak pernah tahu wajah Anda, namun saya bisa merasakan jika Anda setiap hari datang ke mari. Orang-orang yang sama. Hanya untuk mendengar saya berseruling, tanpa mau mengeluarkan uang se sen pun! Awalnya, saya tak mau diketahui orang lain jika saya buta. Saya tak mau dikasihani. Sebab itu saya tak mau mengamen apalagi mengemis. Saya berdagang. Namun Anda memaksa saya untuk mengaku. Anda tak pernah mau mengerti kesulitan orang lain. Adik saya lima orang, saya bertanggung jawab atas mereka.” Dia benar-benar kalap. Getaran suaranya bisa menggerakkan lempeng bumi. “Saya tahu, Anda ke sini sebab Anda memang tak punya pekerjaan yang menyibukkan diri Anda, bukan? Oleh karena itu, …..” suaranya tertahan. Parasnya berbinar. “hanya dengan tiga ribu rupiah saja, Anda sudah bisa dengan bebas menyibukkan diri Anda. Anda menjadi punya pekerjaan. Siapa tahu Anda bisa menjadi pemain seruling Grup Soneta. Ha ha ha” dia tertawa. Lebih tepatnya menertawakan nasib pahitnya.
              Penonton-penonton itu masih sama. Perlahan mundur selangkah kemudian diikuti langkah berikutnya. Sebelum derap langkah itu habis sama sekali, dia berteriak sekali lagi.
              “Baiklah, mungkin ilmu memang tak seharga tiga ribu rupiah, namun, dua ribu rupiah saja, Anda sudah bisa mendapat ilmu saya ini. Bukan sulap bukan sihir!” dia menepuk-nepukkan buku-buku itu dengan tangannya.
              Masih tak ada yang menggubris. Ketika langit mulai menangis, menyembunyikan hangat mentari. Ketika itulah dia juga menyembunyikan buku-buku ilmunya ke dalam kotak hitam ajaibnya. Tak ada yang berubah dengan jumlahnya. [ ]

                                                                     


0 Response to "Anak Lelaki"