Oleh: Fauziah Rachmawati
Kuaduk-aduk laci di depanku. Nihil! Benda itu tak ada! Kukeluarkan seluruh isi lemari, tas dan rak. Sialan! Kemana dia?
Prang…
Kuaduk-aduk laci di depanku. Nihil! Benda itu tak ada! Kukeluarkan seluruh isi lemari, tas dan rak. Sialan! Kemana dia?Deg…mataku tertuju pada tempat tidur yang tak lagi rapi. Ya! Dia ada di sana! Kusingkirkan sprei yang menutupi busa nampak plastik yang berisi serbuk putih. Serbuk penyelamatku.
Segera kuambil benda itu, kuhisap dan tidak sampai satu menit kurasakan gelombang hangat menjalar dari pinggang bagian bawah seperti sensasi “sibuk” yang meluncur menuju sistem syaraf pusat. Sebuah sensasi ketenangan yang dalam yang menyelubungi diri dengan cepat.
Ehmm.. ketenangan seperti inilah yang kuinginkan!
Dok dok dok...
”Siapa sih yang ganggu?! Seperti nggak ada waktu lain saja!
”Siapa?” teriakku.
”Aku, Doni!” mau apa anak ini.
”Ada apa Don? Aku masih ganti pakaian.”kataku bohong.
”Nggak aku cuma mau bilang, barusan aku dapat SMS dari Ratna. Jadwal Pak Rahmat diajukan satu jam lagi,” katanya dari balik pintu. Kok mendadak banget?
”Siap-siap Pram, sebentar lagi kita berangkat,”
”Ok...”
Lega rasanya dia tidak masuk kamar. Kupandangi kamar yang sebenarnya tak layak untuk disebut kamar. Ruangan ini lebih pantas disebut gudang. Tempat tidur dengan sprei berantakan, lampu yang tak begitu terang, buku berceceran di mana-mana, baju yang berserakan dan berbagai gambar artis ternama memenuhi dinding.
Kuambil levis yang sudah tiga hari ini belum kucuci. Kulihat dan kucium baunya. Ehm.. belum terlalu kotor. Tinggal menyemprotkan parfum dan wangi deh.
Tak sampai sepuluh menit aku sudah rapi. Tak banyak yang tahu dengan kehidupanku sebenarnya. Yang mereka tahu. Pram adalah lelaki keren yang menjadi idola banyak wanita, anak orang kaya, selalu berpenampilan necis dan berotak smart. Dan itu tak semuanya benar.
Kukeluarkan Ninja hijauku dari parkiran, aku dan Doni bersiap-siap berangkat menuju kampus.
Suasana kampus yang tak pernah sepi, kecuali saat libur dan malam hari. Setelah memarkir sepeda, kami menuju gedung E5. Sebuah gedung yang tak jauh dari perpustakaan Universitas Negeri Malang.
. . .
Gemerlap lampu diskotek menari-nari di atas kepalaku. Beberapa pelayan seksi dengan rambut penuh warna dan tindik menghias di telinga. Ditambah rok mini di atas dengkul yang membuat mata lelaki berkunang-kunang.
Jack & Daniels di gelasku belum terusik sama sekali. Alunan jemariku hanya memutar-mutar gelas yang sedari tadi dalam genggaman.
”Kau begitu berarti, sungguh sangat berarti. Kesempurnaan cinta kau beri. Aku menyayangimu, dalam senyum dan tangisku...” Nama ibuku terpampang di layar HP.
”Assalamu’alaikum,” sapa ibuku.
”Wa’alaikumsalam,” aku menjauh dari keramaian. Mencari tempat yang agak sepi.
”Kok ramai sekali? Kamu di mana?”
”Di rumah teman Bu.”
”Ooo...ya sudah. Kamu baik-baik sajakan?” hal yang selalu ditanyakan orang tuaku.
”Iya bu, saya sehat,”
”Kirimannya kurang atau tidak?”
”Cukup, makasih ya Bu,”
”Syukurlah, belajar yang rajin ya,” mampukah aku menjawab pertanyaan ini.
Dan bla bla bla...
Setelah menutup telepon dari ibu, aku kembali ke dalam kafe. Suasana di Hugos belum begitu rame. Ini membuatku leluasa untuk mencari sosok yang kukenal. Ya... setidaknya aku tidak sendirian.
Bram! Lelaki itu jarang sekali absen untuk yang satu ini. Dia pulalah yang mengenalkanku pada heroin, ganja dan berbagai obat-obatan lain.
”Bram!” teriakku.
Lelaki yang kusebut Bram menoleh dan berjalan ke arahku. Dia tersenyum dan menepuk pundak.
”Hai Bro! Lama nggak kelihatan. Ehm. Gimana persediaannya? Kalau mau aku bawa nih...”ujarnya.
”Sory, mungkin lain lain kali ya..” ujarku.
Ada rasa bersalah setelah mendapat telepon dari ibu. Ah, bu...maafkan anakmu ini. Begitu banyak kebohongan yang selama ini kulakukan.
. . .
Keringat bermanik-manik memenuhi wajahku. Tubuh kurusku terus menggigil. Gurat-gurat di wajahku makin berulah. Desah napasku pun tersengal-sengal tak beraturan. Di puncak rasa sakit yang tak terpatrikan, tanganku sibuk mengaduk-aduk isi tas. Mengeluarkan seluruh isinya dengan kecemasan. Jari-jariku liar mengobok-obok ruangan. Namun benda yang dimaksud tak juga nampak.
Buliran itu semakin menjadi. Hingga berbagai rasa tak nyaman bergelayutan di persendian. Tiba-tiba mata sayuku tertumbuk pada benda yang bersembunyi di kotak pena. Batang tajam itu kini berpindah letak dan akan menjalankan tugasnya sesuai keinginanku.
Beberapa menit kemudian, kunikmati cairan merah yang keluar dari tubuhku. Tangan yang semula mulus kini penuh goret ukiran tak terbentuk. Untuk beberapa saat, aku menjadi lebih tenang. Namun ini tak berlangsung lama. Aku harus segera mencari benda itu. Benda yang membuatku seperti sekarang ini. Aku tak ingin tersiksa lagi.
Aku baru sadar kalau serbuk putih itu sudah habis.
Kuraih HP yang tak jauh dari tempatku. Kutekan sederet nomor yang sudah kuhapal di luar kepala. Bram.
”Bram, aku Pram,”kataku terbata-bata.
”Ada apa Pram?”tanyanya.
”Aku lagi butuh nih..,”sambil memegangi tubuhku yang bergetar.
”Ok, kita ketemuan dimana?” katanya setengah tertawa.
”Kamu ke kosku ya... kutunggu!” rasanya nggak mungkin aku keluar kamar dengan keadaan seperti ini.
”Siip... tunggu ya, aku meluncur ke sana sekarang,” jawabnya.
Menit-menit penantianku terasa begitu menyiksa. Badanku menggigil, kepalaku berkunang-kunang.
Tit..tit..tit
Sebuah Sms masuk. Dengan sedikit merayap kuraih HP mungil warna biru.
”Nak, kamu sehatkan? Mulai kemarin ibu mimpi buruk. Kalau ada masalah bilang ya... ingat di sini kami mencintaimu dan selalu siap kalau kau butuhkan. Jangan lupa sholat.”
Aku tak kuasa membendung air mataku. Allah... apa yang harus aku lakukan. Tubuhku makin bergetar... sakaw yang kurasakan semakin menjadi.
”Pram!” Bram mengetuk pintu kamarku.
”Masuk! Nggak kukunci,”lelaki itu memutar gagang pintu. Dan berjalan ke arahku.
”Cepat bawa obat itu ke sini!” kutarik tangannya.
”Sabar, tapi kali ini ada peningkatan harga,”katanya sambil mengacung-acungkan plastik berisi serbuk di depan mataku.
”Kurang ajar Kau! Katamu kemarin ada diskon?” aku semakin tak sabar.
”Itu kemarin. Salah sendiri kau tolak tawaranku kemarin. Untuk hari ini harga berubah. Mau nggak?” lidahnya menjilat heroin yang ada di telapak tangannya.
”Ok, aku ambil! Cepat bawa ke sini!”
”Uangnya mana?” lelaki ini semakin membuatku marah.
”Itu di dompet, ambil sendiri. Sekarang cepat serahkan barang itu!” teriakku.
Tidak ada tiga detik, plastik itu berpindah tangan. Segera kuhisap serbuk putih itu. Bram berjalan mengambil dompet yang ada di tempat tidurku. Tangannya menarik beberapa lembar uang.
”Terimakasih ya Pram... kau memang pelanggan setiaku. Jangan sungkan-sungkan untuk memanggilku lagi kalau butuh,” katanya sambil mengipas-ngipaskan uangku.
”Aku pulang dulu,” katanya menepuk pundakku.
. . .
Gawat!
Mengapa saldo di tabunganku tinggal sedikit? Padahal baru seminggu yang lalu ibu dan bapak kirim. Dan yang lebih gawat, uang itu tidak hanya uangku bulan ini tapi juga uang semester yang harus kubayar satu bulan lagi.
Kemana aku harus cari uang? Doni? Sepertinya dia juga butuh uang. Bram? Wah bisa-bisa hutangku meledak, dia selalu memberi bunga pada setiap pinjaman.
Benar-benar gagal! Usaha pinjam-meminjam yang kulancarkan gagal total. Dan sekarang apa yang harus kulakukan. Terpaksa deh minta lagi pada ortu. Ya ini adalah jalan terakhirku.
Dengan menyusun keberanian, kuhubungi orang tuaku yang notabenenya adalah guru. Alasan membenahi komputer, kurasa itu adalah alasan yang paling tepat untuk saat ini. Soalnya bulan lalu, aku sudah bilang kalau mau beli HP baru. Padahal HPku tetap yang itu-itu saja. Bulan kemarin beli buku, padahal aku selalu pinjam dan fotokopi. Ini semua kulakukan tak lain dan tak bukan karena barang satu itu! Serbuk putih yang membuatku ketagihan.
Dengan sedikit memelas dan merayu, kebohonganku membuahkan hasil! Uang itu kudapat juga. Ibu...bapak... maafkan anakmu ini.
. . .
Bebas!
Satu kata yang tepat untuk diucapkan setelah ujian berakhir. Tapi mungkin kata itu lebih pantas untuk mereka yang yakin nilainya bagus. Sedang aku? Minggu-minggu terakhir ini, konsentrasiku menurun. Daya ingatku juga. Pokoknya aku malas sekali belajar. Mampukah aku mempertahankan IP 3,6 yang kudapat semester kemarin?
”Pram, kamu pulang kapan?” tanya Doni.
Pulang? Memang sudah menjadi kebiasaan anak kos, kalau liburan mereka pasti pulang. Tapi kali ini.. aku merasa bersalah pada orang tuaku. Sanggupkah aku memperlihatkan wajahku ini pada mereka. Setelah apa yang kulakukan.
. . .
Maksud hati menunda waktu pulang, tapi apa daya orang tuaku menghubungi terus. Katanya mereka kangen padaku. Dan akhirnya aku memutuskan untuk pulang.
Setelah mengepak baju secukupnya aku mandi. Hari ini adalah penerimaan KHS selain hari dimana aku pulang kampung.
Suasana kampus rame dengan antrian panjang mahasiswa yang mau mengambil KHS. Karena fakultas kami berbeda, jadi kami antri sendiri-sendiri.
”Galih Pramoedya,” suaraku dipanggil. Kuambil KHS dengan segera.
Memang nilaiku lulus semua. Tapi IP! IPku turun menjadi 2,6! Ya ampun! Penurunan yang drastis!
Kakiku lunglai...
”Pram..bagaimana? Tetep kumlotkan?”tanya Doni.
Aku tak sanggup berkata apa-apa. Kumasukkan nilaiku dalam tas dan pamit meninggalkannya.
”Pram, ada apa?”wajahnya cemas.
”Aku nggak enak badan,” jawabku asal.
. . .
Kutatap rumah sederhana di depanku. Masih seperti yang dulu, tak banyak yang berubah. Ada pohon rambutan dan mangga di depannya.
Tapi mengapa sekarang depan rumahku ada warung? Mulai kapan ibu jualan?
Tanganku meraih gagang pintu. Di kunci.
”Assalamu’alaikum...,”sapaku.
”Wa’alaikumsalam,” suara adikku yang duduk di kelas tiga SMA.
Wajahnya sumringah ketika tahu aku datang.
”Bu! Mas Pram datang,” teriaknya.
Dengan tergopoh-gopoh ibu berlari menuju ke arahku. Beliau memelukku erat.
”Syukurlah Pram, kamu sehat!”
”Iya bu, terimakasih doanya,” jawabku.
Kuputar pandanganku, mengamati ruang tamu yang lama tak kulihat. Kemana sofa dan televisi yang ada di pojok ruangan, apa dipindah?
”Lho bu..sofanya mana? TV juga? Ibu pindah ya?”tanyaku.
”Sofa, TV dan kulkas ibu jual untuk keperluanmu kuliah. Tapi tenang saja nanti bisa beli lagi. Sekarang yang penting kamu jadi orang dulu. Masalah harta nanti bisa dicari, lagian...”
Deg... badanku lunglai.. aku tak sanggup mendengar ucapan ibu selanjutnya.
Dengan apa yang kulakukan selama ini, membohongi mereka dengan alasan keperluan kuliah. Menghabiskan harta mereka untuk...Ah.. aku tak sanggup mendengarkan kalimat wanita tercintaku.
Yang kurasakan adalah tiba-tiba mata ini berkunang-kunang, pandanganku kabur...
”Pram..Pram.. kamu kenapa?” suara ibu terdengar lamat-lamat.
0 Response to "Dalam Pasungan Setan"
Post a Comment