Oleh: Fauziah Rachmawati
Pecundang!
Kau! Haruskah aku mengemis padamu? Mencium tanganmu? Bersujud di hadapanmu? Atau jatuh tersungkur di ujung jari kakimu? Hanya untuk berucap, kembalilah padaku.
Tak ingatkah kau akan rajutan kenangan yang telah terbina? Tak sadarkah, jika kau telah mengisi hariku seperti pantai yang kena abrasi? Kutatap bola matamu. Mata yang membuat banyak gadis terpikat. Retina yang menyimpan berjuta pesona.
Saat ini kau memang duduk di depanku. Tapi matamu menerawang. Apa yang kau pikirkan? Bisnis yang kian merosot? Investor yang mulai berkurang? Atau wajah anak istri yang setia menunggu hadirmu?
Ramainya suasana kafe tak mempengaruhi sikap kita berdua. Diam tak bergeming hingga aku dapat mendengar alunan nafasmu.
“Bagaimana Joe?” hatiku tergerak untuk memulainya.
Sikapnya belum berubah, tanpa ekspresi. Tangannya dari tadi mengaduk jus melon, tak hendak meminumnya.
“Joe, jangan diam saja!” paksaku.
Posisi duduknya mulai bergeser. Wajah yang semula beku kini mulai mencair. Seulas senyum tersembul di atara bibir tipisnya.
“Kita menikah!” katanya.
“Kamu serius?” aku tak percaya perkataannya.
“Ya, kita menikah.”
“Istrimu?” tanyaku.
“Itu masalahku, biar kuselesaikan.” Dia menyakinkanku.
Digenggam erat tanganku, genggamannya yang masih sehangat dulu. Aku masih belum percaya dengan apa yang kudengar. Akankah seorang Joe mau menjadikanku sebagai permaisuri hatinya. Apakah ini karena bayi yang kukandung?
Rasanya siang ini aku adalah wanita paling bahagia di dunia. Seorang wanita yang akan mengakhiri masa lajangnya.
Berbagai rencana telah tersusun. Mulai dari dekorasi pelaminan, catering, kue pernikahan sampai pada mas kawin.
Aku sudah tak sabar lagi menunggu hari itu. Saat paling mengesankan, saat aku bersanding dengannya.
. . .
“Sudah siap sayang?” telponnya pagi itu.
“Sudah sejak tiga puluh menit yang lalu.” Jawabku.
Ok, sepuluh menit lagi aku datang.”
Kami berdua akan pergi ke butik untuk memilih gaun pengantin. Dan tiga puluh menit adalah waktu yang teramat pendek jika dibanding dengan masa-masa penantianku terhadapnya.
“Bila yang terlukis untukku adalah yang terbaik untukmu. Kan kujadikan kau kenangan yang terindah dalam hidupku.” Dering HP membuyarkan lamunanku.
“Aku sudah di depan pintu Cinta.”.
Kulangkahkan kaki menuju pintu depan. Kutarik gagang pintu perlahan. Tiba-tiba tangannya menuju ke telingaku. Dengan lembut dia memasang mawar merah di daun telingaku.
“Maaf aku terlambat.”ujarnya.
“Bagaimana? Beres?” tanyaku.
“Yup, dia sudah terbang ke London sepuluh menit yang lalu.”Hari ini istrinya pergi ke London untuk melanjutkan S3.
“Trus, kapan kau menyusul?” tanyaku lirih.
“Bulan depan, setelah pernikahan kita.”
Di hatimu masih ada mereka. Lalu dimana kau letakan aku? Tak bisakah hanya ada aku di hatimu?
“Hey, jadi nggak?” suaranya membuyarkan imajinasiku.
“Ha, apa?” tak sempat aku merekam kata-katanya.
“Jadi nggak? Lagi mikirin siapa?”
“Kamu.” Jawabku datar.
Beriringan kami menuju mobil. Dibukanya pintu mobil untukku.
“Silahkan masuk tuan putri,” manis sekali.
“Terima kasih,” sedikit kuangkat rok panjangku.
Tangannya memutar kunci, hendak menghidupkan mobil. Namun tiba-tiba HPnya berbunyi.
“Apa? Kok bisa begitu?” suaranya meninggi.
“Ok aku ke sana,” kalimat terakhir itu keluar dari mulutnya.
Ditatapnya mataku lekat.
“Maafkan aku Kasih,” antara terdengar dan tidak.
Aku sudah tahu lanjutan kalimat itu. Ini bukan pertama kalinya dia menggagalkan rencana yang telah tersusun.
“Aku mengerti,” kuanggukan kepalaku.
“Makasih Honey,”
. . .
Semburat cahaya bulan menyusup hingga menyebar dalam ruangan ini. Sendiri aku memandangi gaun pengantin yang entah kapan aku memakainya.
Ini hari ketiga dia tak menemuiku. Usia kandunganku hampir empat bulan. Aku malu bila orang-orang tahu kalau aku hamil. Apa yang harus kuucapkan jika mereka tanya siapa bapak dari anak yang kukandung.
Penyesalanku rupanya sia-sia. Semua telah terjadi dan kini aku harus menanggung sendiri. Seandainya dulu aku tidak terlalu bodoh, seandainya dulu hatiku tidak terjerat olehnya. Seandainya dulu tak ada perkenalan diantara kami. Seandainya....
Gaun putih penuh renda itu diam tak bergeming. Sepasang pakaian impianku. Tetap di sana entah sampai kapan.
“Bu pak Joe datang,” Kalimat yang keluar dari bibir pembantuku mengusik sepi galauku.
Aku enggan keluar. Tetap duduk di jendela kamar sambil memandangi kelip cahaya bintang.
Suara langkahnya mulai terdengar.
“Kau sakit?” dielusnya keningku. Pandanganku belum beranjak dari langit.
“Kok tidak ke dokter?” tanyanya.
“Dokter tak bisa menyembuhkan penyakitku ini.”
“Sweety, maafkan aku. Aku tahu ini salahku. Percayalah aku pasti akan menikahimu.” Ditatapnya mataku.
Tak kugubris perkataannya. Aku sudah muak dengan janji-janji palsunya. Aku sudah bosan hidup dalam penantian. Penantian yang tak berujung.
“Besok kita beli cincin perkawinan ya,” ajaknya.
Kuselami sinar yang terpancar dari bola hitam itu.
“Kau sadar dengan ucapanmu?” tanyaku.
“Kau tak pecaya padaku?” nampaknya dia mulai tersingung dengan pertanyaanku.
“Bukan begitu, aku tak mau kecewa lagi.”
“Ya, aku ngerti perasaanmu. Tapi aku janji, besok pasti jadi..”
“Lalu, kapan kita nikah?”
“Bagaimana kalau bulan depan?”
“Bukankah tiga minggu lagi kau ke London?”Sejenak dia terdiam.
“Joe, aku tidak menuntut pernikahan yang mewah. Cukup kau nikahi aku secara resmi. Itu saja.”
“Sungguh?” matanya terbelalak.
“Ya, cukup kau nikahi aku dan kau menjadi bapak dari anak kita.”
“Ok kalau begitu. Siapkan daftar nama undangan. Dua minggu lagi kita menikah.”
“Benar?”
“Yup,”jawabnya.
. . .
Sudah tiga jam kami mengelilingi mal terbesar di kota ini. Bukannya tidak ada yang cocok, tapi cincin-cincin itu mengusik nuraniku.
“Bagaimana say?” tanyanya.
“Aku bingung,” kugigit bibirku.
“Ya sudah sambil mikir, kita makan dulu ya,” ajaknya.
Kuanggukan kepalaku. Kami berjalan beriringan menuju salah satu restoran favorit kami. AC dalam rumah makan menerpa tubuhku.
“Kita pulang jam berapa?” jam menunjukkan delapan.
“Aku ingin menghabiskan malam bersamamu,” katanya.
“Yakin?”
Dikedipkan matanya ke arahku.
“Ok, kita nonton midnight!” ajakku.
“Boleh, tapi aku yang pilih judulnya!” tawarnya.
“Yup.”
. . .
Untuk mengisi waktu sampai menjelang jam dua belas malam, kami berjalah-jalan sepanjang taman kota. Jalanan yang tadinya ramai kini mulai sepi. Banyak pedagang kaki lima membenahi dagangannya dan beranjak pulang.
Saat-saat seperti inilah yang kutunggu-tunggu. Saat yang ada hanya aku dan dia. Saat tak ada orang lain yang mengusik kebersamaan kami.
“Sudah jam sebelas,” kulirik alba di pergelangan tangan kiriku.
“Kita kembali ke Bioskop?”
“Ok.”
Sepanjang perjalanan dia menggandeng erat tanganku. Antara kami yang ada hanya diam. Kurapatkan jaket kulityang membalut tubuhku, aku tak tahan dengan angin malam yang menusuk tulang persendianku.
“Rhei,” suasana hening.
“Ya,” kuhentikan langkah kakiku.
“Maafkan aku.”
“Ada apa?” kukira tak ada yang salah pada dirinya.
Dari balik bajunya terlihat benda berkilau bermata tajam. Diarahkan benda itu ke bajuku. Aku berusaha melepaskan tangannya, tapi ia terlalu kuat.
Benda itu menempel di perutku. Keringat deras mengalir memenuhi tubuhku. Samar, penglihatanku tak lagi terang. Yang ada hanya bayang wajahnya yang mulai menjauh dariku. [ ]

0 Response to "Kemelut Yang Tak Berujung"
Post a Comment