Laung Mudigah

Oleh: Fauziah Rachmawati


“Hentikan!” mereka mencoba memisahkan kami.
“Ini bukan jalan yang biasanya kulalui! Mau dibawa kemana diriku?” alat ultrasonografi transvaginal menghipnotis, memaksa diri ini dan beberapa teman mengikuti kemauannya.  Kami mencoba untuk melawan, namun sepertinya usaha kami sia-sia.

Mengapa perempuan ini tetap diam! Tak merasa sakitkah dia? Dua orang lelaki berkacamata itu memaksaku untuk keluar. Semburat cahaya lampu menyusup hingga menyebar dalam ruangan ini. Dinding-dinding yang setia menemaniku dalam kesendirian. Sinar itu dengan cekatan membawaku keluar.
“Bagaimana sudah keluar?”tanya lelaki itu pada perempuan sebelahnya.
“Sudah,” jawabnya singkat.
“Oke, siapkan cawannya,” perempuan berpakaian warna hijau itu membawa cawan petri yang bermedia. Dengan bantuan mikroskop khusus, dia memperlakukan diriku dan teman-teman dengan hati-hati. Beberapa saat kemudian ratusan sperma disebar di sekelilingku.
Di sebelah, nampak lelaki berkacamata sedang menyiapkan sebuah kotak khusus berbentuk tabung, sebuah lemari elektronik yang mempunyai suhu, kelembaban, dan gas-gas lainnya, layaknya rahim bundaku.
              Ratusan sperma berenang menuju arahku, mereka mencoba menempus dinding pertahanan yang kubangun puluhan tahun. Cukup lama, tak sedikit dari mereka yang tak berhasil dan akhirnya putus asa.
              “Hei jangan mendekat! Dia milikku!” teriak salah satu dari mereka.
              “Siapa bilang? Sebelum ada salah satu dari kita yang berhasil menembusnya, semua berhak untuk berusaha menggapainya,” timpal yang lain.
“Sudah jangan berisik! Sekarang adalah pembuktian siapa yang terkuat dari kita semua!”
“Ya benar, jadi lakukan yang terbaik selagi kita punya kesempatan,”
              “Ada apa dengan mereka? Begitu berartinyakah diriku ini?” gumamku.
Ups, tatapan itu! Sorot mata yang membuatku beralih padanya. Senyum yang terbias menyisir sukma. Dia adalah salah satu dari ratusan sperma yang berusaha menembusku. Kurasakan getaran itu, getaran yang telah lama tak menyapa. Kusunggingkan senyumku, semoga dia tidak patah semangat.
             
Berjam-jam mereka bersaing untukku. Tak sedikit yang tergeletak lemah tanpa daya. Ehm.. penantian ini terasa begitu panjang dan mendebarkan. Senyumnya kembali tersungging, ah masih perlukah kata-kata jika diam mampu ungkapkan segalanya. Ya, semoga kita berjodoh.
              Akhirnya penantian itu tak sia-sia, dia membuktikan senyumnya. Sekarang kami bersatu. Menuju pada level berikutnya. Perlahan kami membelah, menjadi empat sampai delapan sel.
Begitu pula yang dilakukan oleh kelima saudaraku. Kami membelah hingga menjadi satu bentuk yang lebih sempurna. Namun, ada tiga dari kami yang tidak berhasil. Sedih juga, kami kehilangan mereka. Tapi aku yakin, pasti ada sesuatu di balik kejadian ini.
Kurasakan ada yang mengisapku ke dalam kateter khusus, itu pula yang terjadi pada saudaraku. Kami dipindahkan ke dalam rahim bunda. Di dalam ruang suci ini kami berkembang, menempuh fase demi fase. Selain itu, ruangan ini juga diberi hormon penguat rahim untuk memperkuat dinding rahim supaya kehamilan terjadi.

Untuk meyakinkan bahwa bunda memang hamil, dua minggu kemudian dilakukan pemeriksaan hormon Beta-HCG dan urin. Senyum tersungging di bibir bunda, ketika melihat perkembangan kami lewat USG. Ada harap di balik tatapan matanya.
. . .
“Mas, sudah sebelas hari ini aku keluar flek,” ujar bunda.
“Lho? Kok bisa? Kamu jatuh?” bunda menggelengkan kepala.
“Sebenarnya dulu, ketika hari pertama keluar flek, aku mau cerita, tapi kutahan. Mungkin hanya kecapekan.”
“Aku takut keguguran,” suara bunda antara terdengar dan tidak. Ayah membelai lembut rambut bunda.
“Besok kita ke dokter,” bunda mengangguk.
Entah apa yang terjadi, memang beberapa hari ini aku merasakan hal yang tidak biasa terasa. Ada hal aneh yang menimpa aku dan saudaraku.
. . .
Wajah dokter yang tadinya serius tak berekspresi tiba-tiba tersenyum sambil berkata “embrio anda tidak ada masalah, ada satu dan detak jantungnya sudah kelihatan”. Dokter memperlihatkan TV monitor USG ke bunda. Air mata keluar dari mata bunda, ada haru dan gembira.
Ayah yang sedang menunggu di luar, dipanggil oleh perawat, beliau datang dan melihat TV monitor USG. Kulihat matanya berkaca-kaca dan tersenyum padaku.
“Inilah pertama kalinya saya melihat langsung calon bayi saya setelah begitu lama menanti,” kata bunda sambil tersenyum.
“Dari dua embrio yang dimasukkan ternyata hanya satu yang kuat dan bertahan terus… ,” dokter menjelaskan.
“Ayo baby maju terus pantang mundur,” bunda memberiku semangat.
Ha? Jadi saudaraku meninggal? Dan sekarang tinggal aku yang ada di dalam kandungan.
“Umur embrio ini sekitar 6 minggu dan berukuran kurang lebih sekitar 1 inch (2,3 cm),” kata si dokter. Bunda mengernyitkan dahi.
“Iya Bu, umur dihitung dari haid terakhir bukan dari waktu embrio transfer program bayi tabung,” ayah dan bunda menganggukkan kepala mendengar penjelasan dokter.
“Apakah saya perlu bed rest dok?” tanya bunda.
Sambil tersenyum pak dokter menjawab, “tidak perlu, yang penting jangan melaksanakan aktivitas berat dulu,” bunda dan ayah saling tersenyum.
“Nak, semoga kau bisa bertahan,” ayah mengelusku.
. . .
Selama enam bulan diri ini mengalami pertumbuhan dan perkembangan. Bunda, doakan anakmu ini bisa bertahan.
“Dek, minum susunya,” ayah menyodorkan segelas susu pada bunda.
Perlahan bunda meminum air warna cokelat itu. Hari demi hari, senyum itu terus merekah.
“Tuhan, tolong ijinkan aku punya anak, maafkan kesalahan yang telah terbuat dulu,” batin bunda penuh harap.
“Haruskah kuceritakan kisahku lima tahun yang lalu? Bagaimana sikap Mas Pram kalau tahu hal itu? Tuhan aku benar-benar bingung! Tolong beri kesempatan diriku untuk menimang buah cinta kami,” batin bunda.
“Ada apa Dek? Kok pucat?”
“Ndak apa-apa Mas. Hati-hati di jalan ya,” ayah tersenyum dan mengecup kening bunda.
Setelah mengantarkan ayah di depan pintu, bunda kembali melakukan aktivitas rutinnya. Meraih buku cerita di rak, mengambilnya, dan membacakannya untukku. Sudah puluhan buku yang kulahap.
Namun tiba-tiba, bruuuk!
Aaaaaaa….. Kurasakan getaran yang begitu hebat. Sebuah energi gravitasi yang kuat, memaksaku meluncur secepat bayangan. Hujan yang pekat nan lebat menggenangiku. Begitu deras menali rindu, mengguyur ingatku akan wajah itu, hingga akhirnya kuterhempas.
Sepertinya aku baru saja mengalami jatuh dari ketinggian yang tak berujung. Ada yang yang mengoyak-ngoyak tubuh ini, perih terasa menyayat. Degup jantungku berdetak lebih cepat, tubuhku bergerak ke kanan dan ke kiri. Jeritanku tak terdengar olehnya. Ya Allah lindungi hamba-Mu ini.
Bunda berteriak kesakitan, darah keluar dari tubuhnya. Nafasnya naik turun, bibirnya mulai kelu tak sanggup berkata-kata.
“Nyonya….,” bibi tergopoh-gopoh membantunya.
“Panggil taksi dan Mas Pram,” bunda mengerang.
. . .
Bangunan bercat putih. Bersih dan rapi, namun penuh dengan aroma obat yang menyengat. Seorang lelaki berpakaian putih dan berkacamata tergesa-gesa menghampiri kami.
Terlihat sebuah alat suntik yang berisi cairan bening di tangan lelaki tersebut. Dengan sigap tiga orang berpakaian hijau berusaha menyelamatkanku. Dari balik pintu ayah terus berdoa.
Napasku terasa semakin sesak. Tidak, aku tidak mau meninggal sekarang. Aku masih ingin merasakan belaian bunda. Robbi, tolong izinkan aku menatap senyum ayah bundaku lagi. Namun bayang itu semakin memudar...
”Dok, pasien sudah siuman,” ujar seorang perawat.
”Dok, saya ingin bertemu suami saya,” antara terdengar dan tidak.
Dokter menganggukan kepala, dengan sedikit tatapan beliau meminta perawat untuk memanggil ayah.
”Dek, kamu baik-baik saja kan?”
”Mas, maafkan aku,”
”Tidak ada yang perlu dimaafkan,”
”Semuanya gara-gara aku,” tambah bunda.
”Tidak, tidak ada yang perlu disalahkan. Sekarang yang penting kau sehat.”
”Kau benar-benar tak marah padaku?” ayah menggelengkan kepala.
”Masalah anak, mungkin belum sekarang, tapi kita bisa berusaha lagi kan?” bunda mengangguk.
”Ah, Mas.. seandainya kau tahu. Dahulu sebelum menikah denganmu, aku telah dua kali menggugurkan calon bayiku. Dan sekarang betapa menyesalnya diriku, ternyata mempunyai anak tidak semudah yang kukira,” batin bunda... [ ]

 Cerpen ini pernah dimuat di Surabaya post, 16 maret 2010

0 Response to "Laung Mudigah"