VIRTUAL LOVE

Oleh: Fauziah Rahmawati

Bruuaakk!

Kulemparkan tas warna ungu ke atas kasur. Kurebahkan tubuhku yang mulai layu. bukan karena capek ataupun lelah, namun karena ada sebuah dilema yang sedari tadi menggerogoti perasaan, seakan tak mau pergi. Hendak berdiam diri di naungan jiwa ini. Memaksaku menerima semuanya dan butuh perjuangan untuk melawannya.

Ibu, Ibu kok tega sih nglakuin ini semua kepadaku? Akukan sudah bilang nggak mau, tapi kau terus memaksaku dengan berbagai alasan. Kejadian tadi siang masih terekam bagus di sudut memoriku. Berjejal-jejal bersama rumus-rumus yang harus kuhapal dalam satu pecan ini. Semua melebur menjadi satu hingga membuat perutku mual dan ingin muntah.

Tak terasa air mata ini jatuh membasahi pipi. Malam yang dingin, rasanya tak cukup untuk membuat hatiku menjadi dingin. Hampa menggeliat dalam relung hati, menerawang melayang mencari kebebasan. Namun tubuh ini terasa enggan melawan, diri bagai terkurung dalam jeruji besi.


Berbagai upaya sudah kulakukan untuk melawan keputusan itu. Keputusan yang membuatku tak bisa tidur dalam beberapa hari. Keputusan yang menyatakan bahwa diriku sudah dijodohkan! Mengapa mereka tak bilang dari dulu? Padahal sekarang aku dekat sama seseorang. Seseorang yang mampu membuatku berubah. Seseorang yang selalu muncul dalam mimpiku tiap malam. Seseorang yang membuat hatiku resah dan berbunga. Seseorang buah perkenalanku lewat dua layar.

Belum tahu sih siapa dia sebenarnya, tapi yang jelas dia asyik kalau diajak ngobrol dan yang penting dia ngerti banyak tentang masalah agama. Soalnya tiap kali ngobrol atau ketika  punya masalah, dia selalu punya jalan keluar yang pas, dan itu nggak terbesit sama sekali dalam pikiranku sebelumnya. Aku penasaran, siapa dia sebenarnya. Dan rasa ini semakin meluap, rasa tak sabar untuk segera bertemu, rasa yang membuatku gemas.
. . .

Pagi yang cerah, terlihat banyak anak kecil yang pergi sekolah. Mereka tampak semangat sekali pagi ini. Sinar matanya yang jernih, canda tawa cengkrama menghiasi perjalanan. Aahh mengapa aku nggak bisa sesemangat mereka, rasanya tubuh ini enggan tuk diajak beraktivitas. Apakah ini pengaruh perasaan yang masih gak karuan. Namun aku harus memaksa agar rasa itu cepat pergi dari diriku..

“Dinda sarapan dulu!” suara ibu membuyarkan lamunanku.
“Iya bu,” kuturuni beberapa anak tangga dan segera menuju ke ruang makan. Kulihat ibuku sibuk menyiapkan sarapan. Tapi mengapa begitu banyak, apa akan ada tamu yang datang? Kakek nenek minggu lalu sudah datang. Tante, ah gak mungkin kemarinkan baru berangkat ke Singapura, siapa ya?

“Kok hari ini masaknya banyak bu?”
“Iya, hari inikan keluarganya Anang mau silahturahmi ke sini, nanti pulangnya jangan terlalu siang ya!” kata ibu tanpa mengalihkan muka kepadaku. Tangannya masih terampil menghias makanan.

Anang. Lelaki dari keluarga terpandang, sebentar lagi lulus dari Universitas Al-Azhar. Hidupnya sudah mapan, apalagi? Bukankah itu terlalu cukup buat kamu? Kata-kata ibu kemarin malam terngiang kembali di telingaku. Mengapa secepat ini. Akukan belum siap!
. . .
              Matahari bersinar garang, angin bertiup kencang, merontokan daun-daun kering ke bumi, serta mematahkan ranting-rantingnya yang rapuh. Apakah hatiku akan rapuh dan akhirnya patah? Entahlah.

Kuliah sudah selesai sejak tadi, tapi aku masih enggan tuk beranjak pulang. Alba ditangan menunjukan pukul sepuluh, pasti keluarganya Anang sudah datang. Ah.. ke warnet saja, Dam aku pingin curhat ma kamu.

Kumasuki ruangan yang full dengan musik itu, masih ada yang kosong. Biasanya jam-jam seperti ini penuh. Uh … mengapa selalu ada asap rokok sih? Aku kan paling benci ma yang namanya rokok. Tanganku sibuk menghalau asap yang berputar-putar di depan wajah.

Namun perhatianku memudar ketika nama Adam terpampang di layar kaca itu. Ah.. akhirnya nyambung juga ma Adam, asap rokok? Lewat deh…
<Dien>aq lg bt nih……..ortuku maksain agar aq cepet-cepet kawin. Pdhl aq kan mo sekolah dulu. Mana orangnya aq g kenal lagi. Uh sbl, sbl sbl…..
<@dam>Assalamu’alaikum din gimana kabarnya?
<Dien>O iyaya.. aq lupa lg. Wa’alaikum salam. Alhamdulillah aq baik-baik saja…J gimana nih Dam? Ksh solusi dong!
<@dam>masak kamu blm kenal sama sekali?
<Dien> Udah sih, tapi sebatas biodata. Biodatakan bisa dikarang?
<@dam>oo…kamu msh ragu sm kbnrannya ya? Istiqarah aja, Allah pasti memberikan yang terbaik buat hamba-Nya.
<Dien>itu sih nanti kalo aq mmg serius ma dia. Lagian aq blm kenal masak aq mo beli kucing dlm karung? Iya kalo dia baik, kalo g, gmn? Lagian ngapain sich ortuku pakai jodoh-jodohin segala… aq kan bisa cari sdr.,,
<@dam> hey kitakan sepakat kl g ada kata pacaran. Coba kamu trima, masak ortumu milihin suami buat anaknya orang yang g bener, siapa th itu yg t’baik….
<Dien>Ih u kok malah ngedukung sich???sebel…..
<@dam> ingat dien, ”blh jadi kamu  benci sesuatu, pdhl ia amat baik bgmu, n’ blh jd kamu suka sesuatu, pdhl ia amat buruk buatmu.
<Dien> ya dia memang baik, tapi cm sm ortuku. Lha wong  aq aja blm prnh ktm ma dia…
<@dam> pernikahan itu g hanya nyatuin 2 insan tp jg nyatuin 2 keluarga lho…..dan yg perlu u ingat…lelaki yang baik tdk akan mnawarkan pacaran pdmu, tp yang ia twrkan adl pernikahan…selamat ya kamu telah menemukan lelaki itu…
<Dien>ya ampun dam u kok gitu sih?
<Dien>dam…..sbnrnya aq suka ma u….u gmn?
<Dien> whooooi………
<Dien> dam? U g semaputkan?????

Bau rokok itu semakin membuatku pusing, ditambah suara musik yang semakin keras. Mana Adam belum balas lagi, kemana kamu Dam? Suara adzan mulai terdengar biarpun agak kalah dengan suara musik di sini. Kututup layar itu, kukemasi buku dan berbagai asesoris lain yang berserakan di atas meja. Kulangkahkan kaki menuju kasir dan beranjak keluar.

Masih Dhuhur, rasanya aku enggan tuk segera pulang. Tapi mau kemana lagi? Aha sholat di masjid kampus aja. “Ya ide bagus Dien, dengan begitu kamu gak akan ketemu ma Anang, dan mudah-mudahan mereka g jd ngejodohin kamu” suara batinku menyapa.

Sepi, hidup adalah kesepian, mungkin itu yang kurasakan saat ini. Kesepian yang datang sejak kusadari bahwa aku sudah tak punya harapan, karena harapan itu telah terbang bersama sosok yang bernama Adam.
Mentari bergeser pelan, menuju ke peraduan, Angin sore berhembus sepoi ditemani burung gereja yang terbang melayang. Mudah-mudahan tak ada kabar yang mengejutkan lagi.
             
“Assalamu’alaikum …” teriakku, kemana orang-orang, kok sepi. Kulangkahkan kakiku sampai depan rumah dan kembali kuucapkan salam. Ya, salam yang kedua, kuharap ada orang yang mendengar dan membalasnya.
“Wa’alaikum salam, eh neng Dinda sudah pulang,” dari kaca kulihat bibi berjalan menuju pintu.
“Ibu bapak kemana bi?” tanyaku.
“Pergi dengan keluarganya mas Anang, katanya sih mau jalan-jalan. Neng kemana aja, dari tadi ditunggu kok belum pulang-pulang. Kasihan neng mereka nunggu eneng lama.”
“Biarin, siapa suruh nunggu. Anang tadi kesini bi?” tanyaku lagi
“Iya tapi nggak bareng orang tuanya, tadi sekitar jam satu. Katanya masih ada urusan.” Jawab bibi.
“Ooo..”
             
Tiit tiit kudengar suara mobil bapak, mereka sudah datang rupanya. Bibi berlari kecil membuka pagar. Mobil itu melaju memasuki pekarangan. Tapi mobilnya kok cuma satu? Lha mobilnya Anang mana? Ah mungkin mereka sudah pulang, syukurlah. Tapi kalau ternyata mereka satu mobil dengan ortuku? Segera aku menuju ke mobil itu dan ternyata dugaanku salah. Mereka sudah pulang.
             
“Dinda kemana aja kamu seharian? Kan udah dibilangin cepat pulang, kok nggak nurut? Kasihankan Anang ma ortunya, mereka berjam-jam nungguin kamu. Kalau ada acara tuh ya nelpon, jangan seperti ini. Ibu dan bapakkan bingung mau bilang apa? Untung mereka ngerti kalo kamu sibuk.” Suara ibuku mengalir dengan mulus. Sudah kuduga hasilnya pasti seperti ini. Dan aku cuma bisa diam mendengarkan.
             
“Din, nanti malam Anang ke sini, ibu harap kamu gak pergi kemana-mana!” kata ibuku sambil beranjak menuju ke kamar. “Tapi bu, Dinda nanti sudah ada janji.”kataku memelas. ”Udah gak ada alasan lagi, nanti kalo sudah tahu orangnya, kamu pasti setuju. Anang tuh sopan, sabar, pokoknya dia baik.” Ah ibu, selalu saja bilang begitu.
Di luar begitu sunyi, tak terdengar suara jangkrik ataupun kodok. Kamarkupun sepi, hanya berhias dinding yang selalu menatapku. Bagaimana kabarmu malam yang hening? Mudah-mudahan tak seperti kabarku hari ini.
             
Aliran darahku bergolak hebat, mengingatkan pada ombak di laut lepas yang terus bergulung berkejaran dan terkadang saling menghantam. Keringatpun mengalir seiring detak jantung yang menggebu-gebu. Ya Allah kok begini? Hanya untuk bertemu dengan seseorang yang belum tentu menjadi suamiku. Kalau ibu tahu aku seperti ini, pasti beliau tersenyum. Ah apa aku pura-pura sakit aja ya? Tapi apa mereka percaya?
             
“Dinda, Anang sudah datang tuh.” lagi-lagi suara ibu membuyarkan lamunanku. Terlambat, mau nggak mau aku harus menemuinya. Kuturuni anak tangga itu perlahan, namun percuma saja, perbuatanku ini tak akan membuat Anang menunggu terlalu lama. Lho kok dua orang, Anangnya yang mana? Dua-duanya lumayan, tapi lebih manis yang baju biru. Lho kok jadi mbandingin.
             
“Ini lho nak Anang, yang namanya Dinda, dia ini agak bandel tolong dimaklumi ya,” kata ibu kepada lelaki berbaju biru itu. Ehm manis juga.
“Kok diam saja,” kurasakan tangan ibu menyentuh tanganku. Aku terhenyak, kaget, itu yang kurasakan, dan ekspresiku itu membuatku malu. Ya ampun mengapa aku jadi begini?
             
Hampir satu jam kami ngobrol, bertiga dengan temannya. Setelah kupikir-pikir, dia lumayan juga. Wawasannya bagus, agama? nggak usah ditanya, diakan sekolah di Al-Azhar. Masa depan…seperti kata ibu, cemerlang. Tapi Adam gimana? Apakah secepat ini aku beralih pandang? Ah Adamkan belum tentu suka ma aku. Dan mungkin benar katanya, aku telah menemukan seseorang yang cocok.
. . .

Setelah sholat istiqarah tiga kali, akhirnya aku memutuskan untuk menerimanya. Kedua orangtua kami sudah setuju, apalagi?  Tinggal menikah, ya…satu minggu lagi kami menikah. Ya Allah kalo memang dia yang terbaik buatku, tolong buat hatiku rela. Eh aku  jadi teringat kata Adam, boleh jadi aku membenci sesuatu, padahal itu amat baik buatku, dan boleh jadi aku menyukai sesuatu, padahal itu amat buruk buatku.

Berbicara tentang Adam, kemana ya dia? akhir-akhir ini kok sulit dihubungi. Mungkin dia lagi sibuk atau menghindar dariku? Ah, sebaiknya aku undang saja dia. Pasti dia senang melihat aku menikah, atau sebaliknya? Ah nggak mungkin kamikan cuma teman.
. . .
              I
ni ketujuh kalinya aku ke warnet. Untuk apalagi, kalau bukan mencari Adam. Berharap dia membalas emailku. Email yang berisi undangan pernikahan. Bagaimana ya ekspresinya? Kaget, senang, sedih, atau …Namun balasan itu tak kunjung datang. Menunggu adalah pekerjaan yang melelahkan, panjang, dan membosankan bagi diriku yang berharap. Tapi merupakan hal yang biasa bagi mereka yang pekerjaannya menunggu, siapa? Satpam!
             
Dan aku harap hari ini emailku sudah dibalas. Kubuka kotak surat dan kulihat ada tulisan ‘1 dari 10 yang belum dibaca’, kuharap itu kamu Dam. Ya benar dugaanku, ternyata itu kamu. Dengan penuh semangat kuarahkan kursor dan klik, perlahan kubaca emailmu.             

Dam tak kusangka kau gembira mendengar kalau aku jadi menikah. Jadi malu, aku dulu kan pernah nembak kamu. Ah cuek aja, itukan dulu. Dan yang penting kamu mau datang ke pernikahanku. Eh dia mau pakai baju biru lho! Warna kesukaan kami berdua dan merupakan warna baju pengantinku. Ah, apa hubungannya?
. . .
Desau angin membuat kemerisik daun bambu japan yang berjajar memagari halaman rumah. Bayangannya memanjang berayun manja. Suara gemericik air yang jatuh di kolam, hijaunya daun membuat sesjuk suasana. Satu persatu tamu undangan mulai memadati rumahku yang disulap layaknya sebuah tempat pertemuan. Ya, tempat pertemuan yang menyatu dengan alam.

Hatiku kian gusar, Adam dimana ya? Sampai sekarang belum kelihatan. Banyak sih yang pakai baju biru, tapi hampir semua sudah kukenal. Kecuali dua orang itu, lelaki keturunan arab yang dari tadi ngobrol dengan teman kuliahku. Dan seorang lelaki yang sedari tadi melihat kami berdua. Tapi tidak mungkin, diakan teman omku.  Ya Allah kemana dia? Kulihat Anang berbicara dengan om dan tante, dia kelihatan manis dengan baju pengantin birunya. Ya warna baju pengantin kami memang dibuat sama, biar kelihatan kompak dan serasi.

Akad nikah akan dimulai, tapi Adam belum datang, atau sudah datang? Aku tak tahu. Awas kamu Dam, masak dari tadi belum memberiku selamat. Suara ijab kabul membuyarkan lamunanku.

Alhamdulillah semua berjalan dengan lancar. Tapi sampai resepsi selesai, Adam tidak juga muncul. Entah sudah muncul tapi sengaja tidak menemuiku atau benar-benar tidak datang. Ah sudahlah, mengapa aku masih memikirkan dia.
              Pagi berteman gerimis. Burung pipit enggan tuk terbang, suasana seperti ini lebih nyaman kalau mereka tetap di sarang. Mawar itu mulai mekar, hhmm bau harum itu mulai menyapa hidungku. Buliran embun berkilauan membuat suasana pagi. Sudah satu minggu aku menikah, tapi kenapa aku masih teringat Adam? Kemana dia? Kenapa tak datang ke pernikahanku? Suara dentang jam sembilan kali,
“A’ aku mau ke keluar sebentar ya..”  izinku pada Anang.
“Kemana?” tanyanya sambil membuka koran pagi yang dibacanya.
“Ke warnet,” jawabku.
”Hati-hati ya!” pesannya, ahh aku jadi tak tega untuk meninggalkannya. Gapapa deh kan cuma sebentar, paling nggak sampai satu jam.
“Assalamu’alaikum,” kataku sambil meninggalkan ruang tamu.
“Wa’alaikum salam,” jawabnya.

Gerimis mulai berhenti meninggalkan pagi. Mataharipun kelihatan tersenyum biarpun agak memaksa. Burung-burung mulai terbang mencari makan buat anak-anaknya. Ah…pagi yang mempesona. Ditemani semilir angin kuberjalan ke warnet yang tak jauh dari rumah. Warnet itu masih lenggang, belum terlalu penuh. Dan yang terpenting tak ada asap rokok. Kupilih tempat yang nyaman, berharap bisa ngobrol ma Adam. Dan …
              <Dien> dam……
              <@dam>Assalamu’alaikum….hai pengantin baru…………
              <Dien>Wa’alaikum salam…kok g dtg kepernikahanku?
              <@dam> masa sih? Aq dtg kok……
              <Dien>what? dtg? boong …..
              <@dam> bnr!!! aq th kamuu pake baju pengantin, tak kusangka kamu secantik itu……
              <Dien> curang …L .dmn u? aq kok g th sih……
              <@dam> aq di sisimu sayang………
              Kurasakan sebuah sentuhan di pundakku. Deg… Kutolehkan kepalaku ke belakang, Anang sudah berdiri di belakangku.

0 Response to "VIRTUAL LOVE"