Oleh: Hilal Ahmad
Lama sudah ia berada di sudut itu. Termangu di antara buku-buku yang berjejer, menatap dengan sorot mata yang sukar diartikan.
Laki-laki itu menarik nafas dalam, lalu menghembuskannya kembali. Wajah tirusnya menatap ke luar jendela, di mana sebuah lapangan hijau membentang. Indah memang, namun hanya dapat ia saksikan melalui kaca jendela.
Angannya kem
bali ke masa silam. Masa di mana kenangan manis terukir disana. Masa-masa yang yang takkan bisa ia hapus dalam memori benaknya.“Kelak Ayah akan hiasi rumah ini dengan rak-rak buku yang engkau impikan. Kita akan selami dunia bersama-sama. Membuka cakrawala, menyelusuri jutaan kisah dan bertualang melalui deretan kata. Dan akan Ayah beri nama Telaga Bukit.”
“Kenapa harus telaga bukit Yah?”
“Cobalah tengok anakku…” lelaki paruh baya itu mengacungkan telunjuknya ke arah deretan bukit yang membentang di depan mereka. “Gundukan bukit yang menghijau itu adalah sumber penghasilan kita. Di sanalah orang-orang desa mengais sesuap nasi. Hasil bumi yang mereka panen bermuara pada telaga yang kita miliki.”
“Maksud Ayah Telaga itu…”
“Telaga itu ya warung kita,” sang Ayah tersenyum pada bocah berusia delapan tahun itu. Lalu didekapnya sambil menyeruput kopi kental yang dihidangkan oleh istrinya. “Dan dari hasil telaga itu akan Ayah kumpulkan untuk mewujudkan impianmu.” Sang Ayah tersenyum ke arah putranya, sambil menghela nafas berat. Hembusan nafas inilah yang menjadikan bayang-bayang suram.
Angin dingin yang berhembus dari perbukitan meresap ke dalam pori-pori keduanya. Seolah ingin menjadi saksi ikrar seorang Ayah pada anaknya.
####
Laki-laki itu teringat pada koleksi buku yang terdapat di rumahnya. Tak ada yang bisa dibanggakan. Sebuah rak kayu usang dengan buku-buku tulis dan buku-buku pelajaran yang mulai lapuk karena digerogoti rayap. Semakin ia mengingat hal itu, semakin membuat hatinya teriris.
Laki-laki itu menundukkan kepalanya. Entah apa yang ia pikirkan. Kejadian dua tahun lalu tak akan pernah bisa dilupakannya.“Mengapa kau tega melakukan itu pada Ayah Gi.”
“Justru Ayah yang tega melakukannya pada Ogi. Ayah memberikan janji yang Ayah sendiri tidak bisa menepati.” Laki-laki berperawakan tinggi itu memandangi sosok tua didepannya.
“Itu tidak mudah Gi. Kamu tahu, semenjak bermunculan warung-warung baru, penghasilan kita menurun. Dan Ayah tidak mungkin mewujudkan janji itu. Karena untuk makan pun kita harus bekerja lebih keras. Keadaan telah berubah Gi…berubah…” wajah tua itu menatap lekat putranya. Kerutan di keningnya semakin kentara saat buliran bening mulai menggenangi pelulupuk matanya.
“Tidak ada yang berubah Yah.” Laki-laki berkulit sawo matang itu membuang wajahnya ke arah rel kereta. Angin sore menampar-nampar pipinya yang halus. “Sekarang Ogi akan pergi untuk mewujudkan impian Ogi sendiri.”
“Nak, tidakkah kau kasihan melihat tubuh Ayahmu yang kian renta ini. Siapa yang akan mengurus Ayah dan Ibumu.”
“Bukankah selama ini Ayah bisa mengurus diri Ayah sendiri.”
“Kau pergi dengan meninggalkan beban pada Ayah.” Wajah tua itu memegangi dadanya yang terasa sesak. “kau telah merusak nama baik Ayah, lalu kau tinggalkan dengan begitu saja.”
“Hmmh..” laki-laki muda itu menyeringai. “Bukankah itu sudah menjadi tanggungjawab orangtua untuk membahagiakan putranya. Tenanglah Yah, buku-buku itu telah aman dalam ranselku.”
Laki-laki muda itu berdiri di pinggiran rel, menunggu kereta yang akan tiba sebentar lagi.
####
Buku-buku dalam ransel yang dibawa dua tahun lalu terjejer rapi di rumah kardus. Dua tahun sudah ia tinggal di kota ini. Dari perpus ke perpus telah didatanginya, berbagai toko buku telah ia jelajahi. Ia merasa bersyukur, kejadian dua tahun lalu menjadikannya seorang yang ulung dalam memenuhi cita-citanya.
Berkali-kali ia telah melakukannya. Mulai dari toko buku loak di emperan sampai toko buku elit yang ber-AC, mulai dari perpustakaan kecil di pinggiran kota sampai perpustakaan yang berada di jantung kota. Semua telah ia selusuri, dan berhasil. Tiga hari sudah ia mengunjungi perpustakaan itu. Sekarang waktunya bertindak. Diliriknya buku-buku yang sudah ia incar sejak awal. Dengan sigap buku-buku itu telah masuk dalam bajunya.
Laki-laki bermata tajam itu teringat pertama kali ia melakukan di kota kecilnya. Sebuah perpustakaan mini nan sepi telah ia bobol habis dan buku-buku di dalamya telah berpindah dalam ranselnya. Untunglah saat ia pergi, warga belum ada yang menyadari akan hal itu. Hanya seseorang yang mengetahui perbuatannya, Ayah. Laki-laki tua itu tidak bisa mencegah perbuatannya, karena hal ini menyangkut janji seorang Ayah pada anaknya.
Saat tengah asyik memasukkan buku-buku dalam bajunya yang dilapisi jaket berwarna hitam, bahu laki-laki itu disentuh dari belakang. Laki-laki berambut ikal itu tidak menghiraukannya, ia tengah asik merapikan gembungan yang berasal dari bajunya. Setelah sirene berbunyi berulang-ulang, barulah laki-laki itu sadar bahwa ada sesuatu yang aneh telah terjadi.
Laki-laki itu baru menyadari saat salah seorang berseragam menggertaknya. Membredel bajunya dan menggiringnya keluar ruangan. Saat melintasi layar monitor, baru ia menyadari. Bahwa tak hanya buku-buku yang menatapnya dengan tatapan miris, tapi layar-layar elektronik itu telah mengadukan tingkahnya. Mungkin juga karena buku-buku yang menjerit jemu karena tingkahnya yang semakin menjadi. Ia hanya pasrah. Pun saat jeruji besi melambaikan tangan kepadanya. Menyambut mesra untuk segera masuk dalam ruang pengap tanpa sederet rak buku yang selama ini ia damba. [ ]
1:44:00 PM
Unik. Sekaligus satir.