Oleh: Adam Muhammad
Aku tersenyum. Aku pegang tangan istriku. Kukecup keningnya. “Baiklah Ummi, Abi sudah sangat mengerti dengan alasan mengapa Ummi menginginkan Abi menikahi Aisya. Terimakasih atas perhatiaan dan cinta kasih Ummi kepada Abi yang begitu mendalam. Abi begitu terharu. Yang harus Ummi kenang adalah bahwa cinta Abi tak berkurang sedikit pun kepada Ummi. Tetapi Abi tetap akan menjawabnya nanti malam”
“Terimakasih sayang. Tetapi ketahuilah, Ummi sudah menangkap isyarat bersedianya Abi untuk menikahi Aisya. Ini juga kan untuk membahagiakan Ummi.” Ia mencubit hidungku lagi. Kalau sudah begini berarti ia sudah sangat bahagia.
Aku hanya tersenyum. Ia sudah membaca isyarat jawabanku nanti malam. Tapi biarlah nanti malam aku akan menjawabnya secara tegas. Kulirik jam dinding. Sudah pukul 8. Ini berarti satu jam lagi kantorku sudah masuk. Aku pamit pada istriku. Seperti biasa, ia mencium tanganku. Mengantarkan kepergianku dengan senyuman manisnya. Begitu bahagianya aku.
---------------
“Saya terima nikahnya Aisya binti Muhammad dengan mas kawin tersebut tunai!” kuucap dengan mantap ijab pernikahan ini. Alhamdulillah kini aku telah resmi mempersunting Aisya. Aku melirik wajah Aisya. Ia tertunduk. Aku dekati ia. Diciumnya tanganku, bentuk tanda hormatnya padaku. Aku tersenyum. Kupanggil kedua anakku. Mereka mencium tanganku dan Aisya. mereka tersenyum. Ah, hatiku gerimis memandang kedua anakku dipeluk Aisya. Aisya pun tak kuasa menahan air matanya. Butiran bening itu mengalir setetes demi setetes, membasahi pipinya. Aku sendiri tak menyadari butiran hangat meloncat dari kedua mataku. Kupeluk Aisya dan kedua anakku. Hatiku begitu berwarna-warni. Antara senang dan sedih yang mendalam.
Pelukanku semakin erat. Bayangannya semakin jelas di mataku. Harusnya dia duduk di samping Aisya, tersenyum bahagia karena keinginannya terwujud. Harusnya kami menapaki istana kami dengan semangat baru, semangat memikul beban dakwah dengan keluarga yang sakinah, ma wadda wa rahmah. Bersama dia, Aisya dan anak-anak. Sungguh aku tak menyangka. Obrolan kami di pagi itu adalah obrolan kami yang terakhir. Waktu itu hatiku sudah sejuk setelah berdikusi asyik dengannnya. Aku pergi ke kantor dengan senyum menyungging. Tetapi ketika asyik bekerja di kantor, hp ku berdering. Aku lihat hpku. Tidak ada nama si pemanggil. Siapakah gerangan? Saat itu aku masih belum merasakan firasat apa pun.
Sampai tiba-tiba...
“Assalamu’alaikum. Benar ini dengan Ustadz Fauzan?” Suara seorang wanita di sana.
“Wa’alaikum salam. Ya benar, saya Fauzan. Ini siapa ya?”
“Maaf, Ustadz. Ini saya, Aisya.”
Aisya? ada apa gerangan ia meneleponku? Adakah sesuatu yang amat penting hingga ia berani meneleponku.
“Oh, Aisya. Ada apa ya ukhti?” Hatiku gugup.
“Hmm... Ummu .. Ummu Azzam sekarang ....” suara itu terhenti dengan suara tangis di hp.
“Ada apa dengan istri saya?” Aku terkejut. Bukan terkejut karena Aisya yang menelepon, tapi lebih pada informasi apa yang dia bawa. Apalagi suara itu diiringi dengan isak tangis. Hatiku menjadi gelisah.
“Ada apa dengan istri saya?” Aku mengulangi pertanyaanku.
“Ummu Azzam kecelakaan. Tadi siang beliau bertandang ke rumah saya. Tetapi ketika mau pulang dan menyeberang jalan di depan rumah, tiba-tiba sebuah sedan menabrak beliau. Dan... dan ...”
“Dan apa? Bagaimana keadaan istri saya?” Aku semakin gelisah.
“Dan beliau meninggalkan kita semua. Inna lillahi wa inna ilaiihi roji’un.”
Suara Aisya bagai petir menyambar di siang hari yang tenang. Aku limbung. Dunia gelap. Aku merasa sangat kehilangan. Separuh nafasku serasa pergi. Teringat betapa gigihnya ia memintaku untuk menikahi Aisya. Mungkin ini adalah pesan cintanya padaku. Ia ingin aku mengarungi hidup ini tidak sendirian. Ia ingin aku mendidik anak-anak dengan muslimah yang diridhoinya. Ternyata permintaannya padaku untuk menikahi Aisya adalah sudah diskenario juga oleh Allah. Wahai cintaku, semoga Allah membalas semua amal sholehmu. Dan semoga kelak aku, engkau, Aisya dan anak-anak kita akan berkumpul di Syurga-Nya. Do’akan aku, suamimu agar bisa mengarungi istana ini bersama Aisya dan anak-anak kita. [ ]
----jombang, pertengahan oktober 2009. 13:22 siang-----

0 Response to "Mawar Merah Yang Terbelah (eps. 3, akhir)"
Post a Comment