Oleh: Adam Muhammad
Aku berusaha melepas genggaman tangan istriku. Namun ia tidak melepas genggamannya. Kucoba lagi, ia malah lebih erat menggenggam. Kuberanikan diriku membuka mata. Ia masih menatapku. Lekat. Senyumnya sumringah. Senyuman mengembang yang begitu rekah.
“Bagaimana Abi? Abi setuju kan?” diciumnya tanganku.
“Abi... Abi...” kerongkonganku masih tercekat.
“Abi pasti setuju. Ya kan?” kini ia yang menggodaku.
“Beri waktu Abi memikirkan ini ya Ummi.” Aku butuh waktu untuk menormalkan kembali urat syarafku. Aku tidak ingin terburu-buru menjawab permintaan istriku ini. Bagiku ini masalah yang amat serius. Mungkin bagi sebagian suami berada dalam posisi sepertiku sekarang bagaikan mendapat durian runtuh, tapi tidak bagiku.
“Baiklah, Ummi tidak akan memaksa Abi untuk menjawabnya sekarang.” Ia melepas genggaman tangannya. “Ummi hanya ingin menegaskan. Ini adalah keinginan Ummi sendiri. Jadi jangan khawatir, insyaallah Ummi tidak akan tersakiti oleh pernikahan ini. Justru Ummi akan sangat bahagia bisa berbagi cinta kasih dengan ukhti Aisya. Dia adalah sahabat Ummi sejak dulu. Bersama kami mengarungi suka dan duka dalam berdakwah. Dan bersama dia juga Ummi ingin perjuangan dakwah dalam keluarga kita akan semakin ringan. Insyaallah. “ ia mengecup keningku. Mencium tanganku. Ia melangkah ke kamar tidur sambil tersenyum menggodaku. Aku tahu yang dia mau. Aku pamit ke kamar mandi untuk berwudhu. Cukuplah sampai di sini. Kami pun mengutarakan cinta kami berdua dengan tuntunan yang dibenarkan.
-----------
“Ummi, Abi. Kami berangkat sekolah dulu ya. Assalamu’alaikum....” Azzam dan Qonita bergantian mencium tanganku dan istriku.
“Wa’alaikum salam. Hati-hati ya nak.” Istriku mengantarkan kedua buah hatiku ke pintu depan. Cak Joko sudah siap dengan becak antar jemputnya di luar. Aku meneruskan sarapan pagiku yang belum selesai. Sarapan pagi ini terasa agak berbeda dengan lainnya. Kali ini masakan istriku terasa agak hambar. Sehambar hatiku. Tapi kurasa masalahnya bukan pada masakan istriku, tapi lebih pada pikiranku yang sedang bimbang. Tergiang terus permintaan istriku 3 hari yang lalu. Hingga detik ini aku masih belum memberikan jawaban kepadanya. Dan hari ini aku berjanji akan menjawabnya. Ah, mengapa ini harus terjadi padaku. Aku kaget ketika tiba-tiba kecupan istriku mendarat di keningku. Kecupan itu membuyarkan lamunan di tengah-tengah sarapanku.
“Sayang, anak-anak sudah berangkat ke sekolah. Bisakah sekarang Abi mengatakan jawaban itu.”
“Masa’ pagi ini Ummi. Nanti malam saja ya.” Elakku.
“Okelah kalau Abi ingin menjawab nanti malam. Tapi setidaknya, mari kita bicara sebentar saja. Biar Ummi tahu sudah seyakin apa Abi untuk menjawab tentang hal ini. Nggak papa kan, sayang?” ia bersikeras.
Memang sejak permintaannya di malam itu, aku belum membicarakan tentang hal ini sama sekali dengannya. Aku masih sibuk berdialog dengan hatiku sendiri. Aku masih sibuk menata hati agar setiap pertimbanganku kelak menjadi hal yang baik bagiku dan bagi keluargaku. Aku masih sibuk mengadu pada Allah untuk memberikan secercah cahaya agar aku tidak kebingungan seperti saat ini. Sungguh berat. Kalau selama ini aku mencurahkan isi hatiku pada istriku tentang semua masalah yang kuhadapi lalu bagaimana aku mencurahkan isi hati ini jika saat ini yang menjadi masalah adalah antara aku dan dia.
“Baiklah Abi, sebenarnya apa sih yang membuat Abi memikir begitu lama sehingga butuh tiga hari bagi Abi hanya untuk menjawab pertanyaan singkat dari Ummi 3 hari yang lalu?” ia membuka dialog.
“Abi khawatir tidak bisa berbuat adil.”
“Ah, Ummi yakin Abi bisa berbuat itu. Percayalah pada Ummi. Insyaallah Ummi akan membantu Abi untuk berbuat adil pada kami berdua kelak.” Jawabnya ringan. “Atau Aisya kurang cantik yaa?” sambungnya.
“Masyaallah Ummi. Insyaallah Abi tidak memikirkan tentang masalah wajah itu.” Jawabku sengit.
“Hehehe. Bercanda Bi, Ummi tahu suamiku yang sholeh ini pasti tidak akan berfikiran sepicik itu.” Senyumnya yang khas kembali tersungging. “Abi tahu kan kiprah Aisya. Dia adalah seorang muslimah yang luar biasa. Ibadahnya luar biasa. Pengorbanannya dalam dakwah demi agama ini juga sungguh luar biasa. Namun sayang hingga kini belum juga ada yang mempersuntingnya. Dia sudah berumur 36 tahun. Ah, kadang Ummi merasa geregetan dengan para lelaki yang mengaku sebagai aktifis dakwah itu. Mengapa mereka memilih menikah dengan gadis yang lebih cantik dan lebih muda, padahal kalau mau serius mengikuti nabi, kan yang dicari adalah agamanya.” Bertubi-tubi ia beragumentasi.
“Eh Ummi, tidak perlu membahas orang lain.” Aku berusaha menenangkan.
“Tapi betul kan Bi. Lihatlah kurang apa coba Aisya. Ya hanya dia memang tidak secantik Manohara si artis itu. Tapi ia juga tidak bisa dibilang jelek kan? Tapi mengapa belum ada seorang aktifis dakwah pun yang menikahinya. Ya memang beberapa kali dia pernah ta’aruf, tetapi gagal.”
“Yaa, mungkin memang belum jodohnya, Mi.”
“Nah, makanya mungkin jodohnya dia ya sama Abi. Maka Ummi harap Abi tidak menolak permintaan Ummi kali ini.” Rengeknya.
“Tapi Ummi, sungguh aku tidak sekuat mereka yang melakukan poligami. Abi tidak sekuat sang ustadz muda dari Bandung itu yang sanggup melakukan ini. Abi juga tak sekuat pengusaha ayam bakar dari Solo yang melakukan ini juga. Abi takut, bukannya syurga yang Abi dapat, malah neraka yang akan Abi dapat. Karena Abi tidak bisa berbuat adil. Karena Abi tidak bisa mengelola kecemburuan-kecemburuan antara Ummi dengan Aisya kelak. Abi sungguh tak sanggup.” Kuteguk segelas air putih hangat di depanku. “Lagipula, menikah kan bukan hanya karena kasihan saja Ummi. Apakah Aisya mau kalau ia tahu bahwa Abi menikahinya karena Abi kasihan padanya?”
“Ah, Abi ini. Ummi kan sudah bilang. Insyaallah pertikaian-pertikaian tidak akan terjadi antara kami. Kami sudah saling memahami sudah sejak lama. Yaa, walaupun tak bisa dipungkiri pasti akan ada gelombang-gelombang masalah dalam rumah tangga. Tapi yakinlah Abi, insyaallah itu hanya keciiiil saja. Tentang cinta? Ah, cinta itu akan tumbuh subur ketika kita telah dipersatukan dalam ikatan pernikahan” Ia kemudian mengambil segelas air putih. Dipandangnya segelas air itu, dan kemudian ia meminumnya. Pembicaraan ini memang melibatkan emosi terdalam dari hati kami. “Dan sekedar mengingatkan Abi, setelah melahirkan Qonita ada masalah di rahim Ummi. Dan ternyata itu adalah kanker rahim. Dan 3 tahun yang lalu rahim Ummi sudah diangkat. Jadi Ummi tidak bisa hamil lagi.”
“Abi tahu itu. Justru itu yang menjadi pertimbangan berat Abi. Apakah Ummi tidak akan cemburu kalau kelak Aisya memiliki anak lebih banyak daripada Ummi? Lagipula, kita kan sudah memiliki 2 orang anak yang sholeh dan sholehah. Kurang apa lagi?” aku bersikukuh.
“Ah Abi, sudah beberapa kali Ummi bilang. Abi tidak perlu mengkhawatirkan perasaan itu. Insyaallah Ummi bisa mengerti. Dan lagi Aisya itu guru SD loh. Jadi Ummi yakin dia akan mampu membimbing anak-anak kita dengan penuh kesabaran.” Desaknya.
“Tapi Abi masih belum berani. Abi teringat bahkan Rasulullah pun tidak berkenan kalau siti fatimah r.a. dimadu oleh Ali bin Abi thalib r.a. mungkin beliau sangat sadar betapa tidak mudahnya menjaga masalah hati ini. Bahkan Rasulullah sendiri tidak menikah lagi hingga Khadijah meninggal dunia.” Kembali aku menguraikan kekhawatiranku.
“Tapi ini beda kan Bi. Yang menghendaki poligami ini adalah saya, Abi. Istrimu. Apakah salah jika Ummi ingin membuat sahabat Ummi bahagia dan mereguk manisnya rumah tangga? Justru dengan argumen-argumen Abi yang seperti itu malah membuat Ummi semakin yakin bahwa Abi akan mampu berbuat adil pada kami berdua kelak. Abi adalah orang yang sholeh. Abi adalah orang yang sangat takut tidak mampu membahagiakan istrinya karena takut akan pertanggungan jawab kelak di akhirat. Dan Ummi ingin bumi Allah ini dipenuhi dengan generasi-generasi sholeh seperti Abi. Dan dua orang anak kita masih kurang Abi. Sekali lagi, nikahilah Aisya. Ia adalah seorang muslimah yang cocok. Semoga kelak dari rahimnya, akan keluar generasi-generasi penebar dakwah” Kali ini kata-katanya begitu serius. [ ]
---------bersambung--------------

0 Response to "Mawar Merah Yang Terbelah (eps. 2)"
Post a Comment