Oleh: Adam Muhammad
Kuhentikan pekerjaanku. Aku tutup laptopku. Kini kami sudah berhadapan. Sungguh cantik bidadariku yang satu ini. Senyumnya tak pernah pergi dari wajahnya ketika berbicara padaku. Dan sungguh ini membuat rasa penatku bekerja lenyap seketika melihat wajahnya.
“Abi, kok ngelamun terus dari tadi. Ayo... mikirin ummi ya?” ia mencubit hidungku.
“Iya. Habis bayangan ummi memang tidak pernah pergi dari pikiran abi.” Kucubit balik pipinya. Namun hatiku masih bertanya-tanya permintaan apa yang akan diminta oleh istriku ini. Ah, semoga saja permintaan ini tidak rumit. Aku masih ingat ketika dulu ia hamil anak pertama kami, begitu senangnya hatiku saat ia memberitahu bahwa ia hamil. Namun setelah itu ia minta sesuatu yang membuatku sangat kerepotan. Ya, ia meminta aku memborong buku-buku karangan Ustadz Fauzil Adzim. Kalau hanya memborong buku itu sih mungkin tida masalah bagiku, tetapi ini ia memintaku untuk memintakan tanda tangan beliau sekalian. Masyaallah! Saat itu aku harus pergi ke Yogyakarta “hanya” untuk meminta tanda tangan sang ustadz. Sayangnya saat itu beliau sedang mengisi beberapa seminar keliling Kalimantan. Jadilah aku cuti dari kantor seminggu menunggu sang ustadz kembali ke Yogyakarta.
“Gimana kerjaan di kantor? Nggak ada masalah kan sayang?”
“Alhamdulillah, tidak ada. Semua terkendali.” Aku makin penasaran permintaan apa yang akan dimintanya.
“Ummi sangat senang dan bahagia dengan pernikahan kita. Ummi sangat bersyukur dikaruniakan Allah seorang suami yang sholeh. Seorang suami yang sangat bertanggungjawab. Seorang bapak yang sangat bertanggungjawab.”, senyumnya masih belum luntur dari wajahnya “seorang aktifis dakwah yang sangat luar biasa. Pendek kata Abi memang suami yang te o pe be ge te.”
“Abi juga beruntung punya istri yang begitu sholehah seperti ummi.” Seuntai senyum kusungging. Entah apakah senyuman itu bisa menutupi rasa penasaranku yang begitu besar untuk mengetahui apa sebenarnya yang akan diminta oleh bidadariku ini.
“Alhamdulillah. Semua ini memang patut kita syukuri. Sungguh tidak banyak muslimah yang bisa merasakan apa yang kini ummi rasakan, meskipun mungkin sebenarnya masih banyak muslimah yang jauh lebih sholehah daripada ummi.” Nadanya mulai serius. Mungkin ini saatnya ia akan meminta sesuatu dariku. Dan aku tahu, kalau sudah begini, ia harus dihadapi dengan serius. Tidak boleh bercanda!
“Ummi merasa Abi sudah memberikan apa pun yang ummi minta. Berlebih malah. Nah, kali ini izinkan ummi untuk memberikan sesuatu kepada Abi.” Ia menggenggam tanganku, menatap kedua mataku dengan serius.
“Tentu sayang. Bukankah ini sudah kewajiban Abi untuk membahagiakanmu. Abi juga siap kok menerima yang ummi berikan. Apa perlu Abi memejamkan mata?” godaku untuk mencairkan suasana.
“Ummi serius, Abi. Tapi Abi janji ya, akan menerima pemberian dari ummi.”
“Ya iyalah masa’ ya iya dong!”
“Idih Abi, mulai deh kocaknya. Ini serius, Abi.” Matanya mulai membelalak. Tapi sungguh ekspresi wajahnya yang seperti itu menambah tiap butir cinta di hatiku.
“Iya, buruan apa dong yang mau Ummi kasih ke Abi. Buat penasaran saja.”
“Ummi mau di rumah kita ini semakin indah dan manis. Dan ummi mau ada madu manis di rumah ini. Madu yang sholehah. Madu yang semakin membuat hari-hari di rumah ini semakin berwarna. Madu yang membuat ibadah kita yang ada di rumah ini semakin giat. Madu yang membuat semangat dakwah kita semakin meningkat.” Masih dengan nada serius.
“Maksud Ummi?” kali ini ia membuatku bingung.
“Ummi ingin Abi menikahi Ukhti Aisya.” Detak jantungku berhenti berdetak beberapa detik. [ ]
------ bersambung -----

0 Response to "Mawar Merah Yang Terbelah (eps.1)"
Post a Comment