Diorama Kepedihan

Oleh: Muhammad Taufiq


John! bluqudugh ... bluqudugh ....”
Oh, bluqudugh ... bluqudugh ...”
Begitulah kira-kira yang saya dengar ketika seorang turis dari Belanda sedang bercakap dengan rekannya. ”Saudara” saya tersebut begitu bergaya dengan kamera aneh lengkap dengan penyangga yang ia tenteng. Plus celana di atas lutut yang sengaja mempertontonkan bulu-bulu di kakinya.

Saya bertemu mereka di Museum Kereta Api Ambarawa atawa Ambarawa Steam Locomotive Museum, hari ini tanggal 22 Juli 2008. Saya bersama saudara satu halaqoh1] yang saat itu sedang mengantar ”kepergian” alias mutasi salah satu saudara yang kebetulan tinggal di Ambarawa-Semarang.

Kami –terutama saya– sangat menikmati perjalanan kali ini. Saya seakan dibawa ke masa lalu. Masa lalu dimana nenek moyang saya yang bekerja membangun stasiun ini atas perintah Raja Williem I dari Belanda. Masa lalu dimana nenek moyang saya berjihad melawan penjajahan. Dipaksa membuat jalan tembus Anyer-Panarukan. Masa lalu dimana kami dipaksa harus membayar belasting –pajak hasil rakyat untuk pemerintah Belanda. Sementara kami hanya menikmati sedikit sekali dari jerih keringat yang kami cucurkan. Karena rempah-rempah hasil panen kami telah mereka angkut untuk kemakmuran mereka. Lalu mereka sok baik dengan politik balas budi mereka. Rasanya seperti harus membayar keringat yang kami cucurkan untuk kami minum!

Saya berjalan sekeliling museum yang dibangun pada 21 Mei 1873 guna memudahkan mengangkut pasukan Belanda menuju ke Semarang itu. Hampir semua bangunan, mulai kantor, lantai, atap, Rolling Stock, Sigh Cross (genta), Wooden Passenger Car (gerbong penumpang dari kayu), dan beberapa lokomatif kuno, sampai ornamen klasik lainnya di museum tersebut masih terawat dengan baik.

Saat saya menikmati perjalanan, tiba-tiba saya mencium bau anyir keringat dan darah yang mungkin saja telah menyatu dengan tembok-tembok yang masih berdiri kokoh itu. Saya rapatkan telinga ke salah satu sisi bangunan tembok bangunan. Entah mengapa tiba-tiba saja mata saya basah.

Awalnya, kami sangat menikmati journey kami. Saya bisa melompat dari satu lokomotif ke lokomotif unik lain koleksi museum ini. Lokomotif legam dan kokoh! Mungkin selegam kulit dan sekokoh hati nenek moyang saya.
Lagi-lagi saya terbius oleh kenangan yang menderu. Perjalanan menembus waktu pun kembali saya alami. Diorama di depan saya seolah nyata dan bergerak. Hingga membawa saya dapat menyelami dan terhanyut dalam kepedihan yang dialami bangsa saya. Namun, kepedihan tersebut tak membuat bangsa saya menjadi kerdil semangat dan menyerah begitu saja pada penjajahan. Biar saja, kepedihan-kepedihan itu menjadi kayu bakar yang kan membawa lokomotif bangsa saya bergerak maju. Tiba-tiba saya semakin menyintai bangsa ini. Saya lah yang akan menjadi kayu bakar itu!

Keharubiruan yang kian menderu pada diri saya tiba-tiba ”terusik” dengan kedatangan tamu-tamu dari negara Belanda. Mereka berjumlah tak kurang dari 15 orang. Yang kebanyakan dari mereka telah renta. Dengan sedikit merogoh kocek, mereka mampu menghidupkan lokomotif kuno yang diakunya hasil karya mereka. Ada 3 lokomotif yang masih beroperasi di ”Willem I” ini. Dengan 3.25 juta, mereka dapat menghidupkan kenangan lewat salah satu lokomotif uap yang konon berbahan kayu jati itu. Saya baru menyadari, bahwa betapa mahalnya harga sebuah kenangan! Adakah yang mampu membayar harga sebuah kenangan 3.5 abad dalam bayang-bayang kelam penjajahan?

Dan para tamu yang telah udzur itu berhasil menghidupkan kenangan! Hingga saya kembali tersulut kebencian yang begitu mendalam pada mereka! Jika penjajah pernah sangat membenci bangsa saya selama 3.5 abad lamanya, lalu apakah saya tidak boleh tiba-tiba kembali memunculkan kebencian dari dalam dada saya pada mereka?! Anak cucu penjajah!

Tampak mereka berjajar rapi dengan serangkaian tools mereka. Berbagai kamera canggih telah mereka siapkan untuk mengabadikan moment langka tersebut. Mereka mengambil posisi terbaik agar dapat merekam sempurna lokomotif seri B 2503 yang menarik dua gerbong penumpang tersebut berjalan gagah!

Seorang saudara saya coba untuk menyambut kedatangan salah satu di antara mereka.
”Hello ... Mister ....”
Tapi apa yang saudara saya itu dapatkan? Pelukan persaudaraan? atau jabat tangan? atau mungkin sekedar senyum ramah?
Tidak!
Si turis tua malah melengos dan berpaling. Tanpa senyum sehelai pun yang ia tinggalkan. Ia pura-pura asyik mengotak-atik kameranya. Padahal saudara saya hanya ingin menawarkan keramahtamahan kepadanya. Tapi hanya dibalas dengan keangkuhan yang tercermin jelas di wajah si turis.

Terlepas apa itu sebuah keprofesionalan dalam bekerja yang sengaja mereka tunjukkan, ataukah memang kearoganan sikap. Seolah ia ingin mengingatkan pada kami bahwa: Tuh sepur punya papi saya!
Lalu si turis kembali bergabung dengan yang lain untuk bersiap mengambil gambar lokomotif yang telah siap diberangkatkan. Sementara saudara saya itu hanya tertegun untuk beberapa saat.

Tiba-tiba ....
Tuuuuuuut ...
Lokomotif uap tersebut menjerit panjang. Membuat hati saya semakin tersayat mendengarknya. Seperti mendengar sebuah kepedihan yang sangat mendalam dari orang yang saya cintai. Seakan sebuah jeritan hati dari sebuah saksi sejarah yang telah berabad lamanya menyaksikan ketidakadilan.

Lokomotif itu berderit. Roda-roda besinya saling bertautan. Tampak seorang masinis tua yang tengah berdiri gagah dalam lokomotif legam itu. Keringat dari pelipisnya mengucur deras. Seiring derasnya air yang keluar dari sisi lokomotif uap tersebut. Saya berdiri tepat di belakang barisan para turis yang sedang membidik lokomotif tua yang sedang berlaga. Dada saya semakin bergemuruh. Hingga saya nyaris tak sadarkan diri. Kupandang lekat-lekat lokomotif legam tersebut. Lokomotif yang mungkin telah membawa sejuta pasukan dengan senapan yang bernama ketidakadilan, kecongkakan, arogan, kebencian, dan permusuhan. Namun tak penah menyiutkan nyali nenek moyang saya untuk terus berjihad!

Tuuuuuuut ...
Lokomotif itu menjerit kembali untuk kemudian terhenti. Kembali ke stasiun untuk kemudian mengulangi lagi keberangkatan. Papi-papi itu sepertinya tak puas dengan hasil bidikan pertamanya. Terpaksa harus mengulangi lagi. Begitu mudahnya memermainkan sejarah? Dengan langkah tua yang perlahan, lokomotif itu kembali menuruti hawa nafsu yang memaksa lokomotif itu hidup kembali. Lokomotif tua yang letih merangkak perlahan.

Setelah puas, mereka segera naik ke gerbong penumpang di belakang lokomotif. Lokomotif tua ini akan membawa mereka melintasi gunung Merbabu yang menjulang indah. Puncaknya menembus awan. Menuju Stasiun Bedono. Ada gerbong penumpang bagian depan diisi wisatawan manca tersebut. Sedangkan gerbong kedua, berisi mereka yang beruntung saat itu berada di museum. Terlihat anak-anak kecil masih berlarian mengejar lokomotif yang tengah melaju pelan tersebut. Lokomotif kuno kebanyakan hanya mampu berlari dengan kecepatan maksimal rata-rata 50 km/jam saja.

Kini tinggal ilalang nan hijau di sepanjang sisi rel yang seakan melambaikan tangan. Tanda perpisahan pada kawan. Sesekali masih sayup terdengar jeritan panjang yang semakin menjauh. Dan aku, hanya tertegun.
Sementara saudara satu halaqoh yang lain sedang menikmati seisi bangunan kantor stasiun, saya hanya duduk di bangku panjang stasiun. Rasanya saya ingin menanti lokomotif tua itu kembali.

Lagi-lagi saya merasakan ada hal aneh yang tiba-tiba mengusik dan berkelebat dalam pikiran saya. Hingga memaksa saya untuk hanyut kembali dalam dimensi waktu yang telah usang. Saya pun menurutinya. Melewati lebam-lebam kepahitan sejarah panjang penderitaan bangsa saya. Menyaksikan tebu-tebu yang diangkut pedati menuju pabrik gula yang dikelola oleh Handels Vereeniging Amsterdams (HVA). Melihat langsung bagaimana demang penjilat dan bermuka dua mengambil pajak hasil bumi dari rakyatnya, lalu menyetorkan ke pemerintah Belanda dan meraih keuntungan darinya.

Kepahitan sejarah bangsa akibat penjajahan yang panjang mengubah sebagian gen sifat asli bangsa ini. Kasih sayang dan cinta kasih, keramahan dan kehalusan perasaan, telah pudar dan tercampur oleh keangkuhan dan rasa ingin menguasai. Siapa terkuat, dialah pemenangnya. Warna jati diri bangsa menjadi tak jelas. Membunuh saudara sendiri menjadi biasa. Meminum keringat saudara sendiri menjadi kebanggaan. Hanya mereka yang memiliki keteguhan hati dan keyakinan bahwa Allah Yang Terkuat, mereka itulah yang mampu menjaga martabat bangsa.
Tiba-tiba mata saya basah.

Entah mengapa saya masih menyimpan kebencian ini. Kebencian saya membabi buta. Bahkan pada saudara-saudara saya yang jauh-jauh datang dari Negeri Kincir Angin itupun tak luput dari kebencian ini. Kedatangan mereka yang coba menghidupkan kenangan dari nenek moyang mereka, langsung menyulut api kebencian dan kekecewaan pada diri saya.

Padahal, telah berpuluh tahun bangsa ini merdeka –entah apa yang dimaksud sebuah kemerdekaan itu. Padahal, bagaimanapun nenek moyang mereka lah yang merintis sebuah peradaban untuk bangsa ini! Cih! Ada arogansi di balik politik sok baik mereka! Hingga ketamakan penjajahan menular pada sebagian rakyat bangsa ini. Bahkan, menjelma kembali pada bentuk lain sebuah penjajahan di masa kini. Korup dan tak bermoral!

Akankah saya selamanya menyimpan kebencian ini? Tak dapatkah saya memaafkan mereka? Entahlah. Seharusnya saya bisa mengubur dendam sejarah. Karena sia-sia saja memberhalakan derita!
Sayangnya saya tak bisa!
Mungkin saya bisa memaafkan penjajahan 3.5 abad lamanya. Tapi saya tak mungkin bisa memaafkan penjajahan yang kini telah menjelma dalam berbagai kedok kebaikan.
Biarlah saya menikmati kebencian ini. Dengan kebenciaan inilah saya bisa mencintai. Semakin saya membenci, semakin saya mencintai. Mencintai bangsa ini!
* * * * *
Semarang, 22 Juli 2008
1] Halaqoh : pertemuan melingkar yang mempelajari Keislaman.
2] Seharusnya saya bisa mengubur dendam sejarah. Karena sia-sia saja memberhalakan derita!
Berdasarkan:
akan kukubur dendam sejarah
sia-sia memberhalakan derita
Sajak “Refrein di Sudut Dam” karya D. Zawawi Imron dalam kumpulan Puisi “Refrein di Sudut Dam”.

1 Response to "Diorama Kepedihan"

  1. adam muhammad Says:
    8:14:00 AM

    cerpen yang membangkitkan sebuah kenangan memang mengasikkan. terlebih bila cerpen ditulis dengan data-data akurat.

    saya merasa dibaawa ke sebuah stasiun tua yang bersejarah.

    cerpen yang bagus!