HUTAN PINUS

Oleh: Muhammad Taufiq

Ini saatnya kuceritakan kepadamu. Sementara angin masih bergetar di daun-daun pohon pinus. Sementara hara masih terserap sempurna oleh akarnya. Sebelum segalanya berubah.

Ini saatnya kuceritakan kepadamu. Tentang angin yang selalu berkubang dalam hutan. Tentang hewan-hewan yang selalu berbisik pada musim. Selalu berbisik. Sebelum segalanya berubah.
Aku tahu segalanya pasti berubah. Aku tahu ini akan menyakitkanmu. Bahkan diriku sendiri. Tapi kau pun tahu bahwa aku tidak akan meninggalkan hutan ini. Karena aku harus menjaga agar evolusi berjalan setahap demi setahap. Karena aku ingin menjadi saksi pinus kecil tumbuh lalu beranjak remaja. Aku harus memastikan akar-akarnya mencengkeram kuat pada bumi hingga dapat menyerap sempurna hara –ruh leluhurnya. Agar pinus kecil dapat belajar dari yang telah lalu. Agar pinus kecil tahu bagaimana cara menyangga bumi. Agar pinus kecil dapat tumbuh besar dan kekar hingga menembus langit.


Meski aku baru mengenalmu semusim yang lalu. Tapi aku yakin kau telah mengenalku seabad yang lalu. Karena musim lah yang mempertemukan kita. Karena musim pula kita bercinta.
Masihkah kau mengingatnya, Naniaku? Bagaimana kita bersama menyusuri hutan yang lembab karena kanopi pinus telah terbentuk sempurna. Lalu merendam kaki kecilmu pada sumber air yang dinginnya tak terperi. Hingga kau menangis tersedu saat kau tidak bisa menemukanku yang bersembunyi dibalik pohon pinus yang besar.
Kau pun tahu, Naniaku. Aku mencintai hutan ini melebihi segalanya. Melebihi sinar matahari yang tak mampu menembus kanopi pohon pinus. Melebihi air hujan yang tak mampu mengalir ke desamu karena rumput hutan telah menyerapnya untuk akar pinus.

Aku ingin menyaksikan semua itu, Naniaku.
Entah kenapa kau mudah tersesat dalam hutan. Tapi begitulah dirimu. Selalu tersesat dan tersesat hingga berjumpaan kita pun selalu terulang kembali.
Lalu aku menceritakan kepadamu tentang banyak hal tentang hutan pinus ini. Karena hutan layaknya manusia. Ia hidup. Bernafas. Tumbuh. Dewasa. Berbiak. Lalu mati dan menjadi hara bagi generasi selanjutnya. Aku juga telah menceritakan kepadamu bagaimana hutan pinus ini menjaga keseimbangan alamnya. Hingga desa kita selamat dari ancaman longsor atau banjir bah. Dan kau pun telah menyaksikan bagaimana bibit-bibit pinus mungil itu menumbuhkan pucuk-pucuk hijaunya tumbuh dan menjelma pinus perkasa. Aku hanya mencoba agar proses regenerasi mereka tetap berlangsung baik dari waktu ke waktu.
Aku ingin menyaksikan semua itu, Naniaku.

Aku ingin menyaksikan segalanya, Naniaku. Seperti halnya aku ingin terus melihatmu sepanjang waktuku. Menemani hari-harimu melewati hutan dengan ranting-ranting kecil yang gugur di sepanjang jalan setapak hingga kakimu lecet karenanya. Kemudian menemukan sendang yang selalu berselendang pelangi di balik bukit. Selalu. Kau pun bersorak dan berkecipak air yang sejernih hatimu.
Hingga aku mencintaimu.
* * *
Empat musim telah kulewati bersamamu. Meninggalkan hutan dan kembali ke desa. Aku menemukan hal-hal yang menakjubkan saat bersamamu. Aku merasakan kebahagiaan yang luar biasa bila bersamamu. Bercocok tanam di ladang. Mengumpulkan koin demi koin uang dari hasil panen untuk bekal pernikahan kita.

Hingga suatu ketika aku melihat truk-truk besar mengangkut pinus bergelondong-gelondong. Apa yang telah terjadi dengan hutan pinusku? Aku langsung lari ke hutan. Aku mendengar suara gergaji yang mendesing. Suara desingnya semakin keras seakan mencabik tubuhku.
Sesampai di hutan aku melihat beberapa orang dengan gergaji mesin di tangannya, dua buah alat berat dan beberapa truk pengangkut. Mereka menebang pohon pinus kemudian menumbangkannya satu per satu ke bumi. Aku bertanya kepada mereka. Tapi hanya terjawab dengan desing gergaji yang semakin menderu.

Aku semakin marah dan memukuli salah satu penggergaji itu. Hingga giliran mereka membuatku lebam dan terkapar. Aku mencoba berdiri sekuat tenaga dan merapat ke sisi pohon pinus. Jika mereka masih memaksa untuk menggergaji, maka mereka harus mencabik tubuhku terlebih dahulu!

Suara desing gergaji dan mesin alat berat berhenti. Mereka saling berbisik. Kemudian mereka memutuskan untuk kembali pulang. Mereka pikir aku gila. Tapi aku yakin suatu saat nanti mereka pasti kembali lagi. Dan aku bersumpah untuk tidak akan membiarkan mereka merusak hutan pinusku! Aku tidak akan membiarkan segala yang buruk terjadi pada pohon-pohon pinus ini. Seperti halnya aku menjaga hatimu, Naniaku.
Hingga aku meninggalkanmu.
* * *
Karena musim lah yang mempertemukan kita. Karena musim pula kita bercinta. Karena musim pula kita berpisah.
Semenjak peristiwa itu, aku memutuskan untuk tidak turun ke desa lagi. Aku tidak mau kehilangan pinus-pinus lagi. Aku meninggalkanmu tepat semusim sebelum pernikahan kita. Dan kita tidak pernah diizinkan menikah sementara aku harus menghabiskan sepanjang hariku dalam hutan ini. Aku tahu keputusan ini menyakitkan. Tapi bagaimanapun aku harus menjaga hutan pinus ini dari segala hal yang mengancamnya. Sebelum segalanya berubah.

Meski aku tahu segalanya pasti berubah. Meski aku bersalah atas kematianmu yang kau paksakan. Namun aku harus hidup untuk menjaga hutan pinus ini. Bukan demi tugas atau kesetiaan. Tapi demi generasi di bumi selanjutnya.

Aku ingin terus menyaksikan semua itu, Naniaku.
Aku ingin terus menyaksikan pinus-pinus kecil belajar berfotosintesis dan respirasi. Lalu beranjak remaja dan mengembangkan kanopi melebihi luas akarnya. Hingga menggugurkan daun-daun tuanya dan menumbuhkan kembali ribuan daun hijaunya. Hingga menjadi tua, terkelupas dan tumbang ke bumi. Lalu terurai menjadi hara. Sebelum segalanya berubah.

Aku ingin terus menyaksikanmu, Naniaku. Nania yang selalu menari di bawah selendang pelangi pada sendang dibalik bukit. Nania yang selalu menari dalam hatiku.
Aku ingin terus menyaksikan hutan pinus ini melewati musim berganti musim. Hingga ajal menjemputku. Hingga jasadku terurai bersamamu.
* * *
Atas kenangan Coban Talun – Malang (2001-2004)

0 Response to "HUTAN PINUS"