Di Bawah Redup Rembulan Merah

Oleh: Akhi Dirman Al-Amin



Langit pucat. Pelangi meninggalkan spektrum cahaya yang cemerlang menjilat bumi, setelah bebe rapa waktu yang lalu hujan diam-diam mengayur bumi dengan segenap pongahnya. Kedinginan merayapi waktu.
Dua ekor burung kecil gemetar di antara daun – daun. Meringkuk. Basah kuyub. Kedinginan itu semakin terpeta. Menggigil menusuk tulang.

Perempuan itu berdiri di atas lamin yang telah arang. Sejenak, ia tutup matanya. Merasakan kehampaan yang nyalang menyelimuti tubuhnya.
Demi Jata! Ia tak ingin membenci siapapun. Tidak juga ketika suaminya dikayau oleh entah siapa. Ia hanya menangis memeluk Ngo, anaknya, buah cintanya dengan dengan lelaki langit itu. Dengan tangan terbuka ia terima segalanya: jiwanya yang nanah dan luka-luka yang memerah dalam dirinya.

Perempuan itu meraba telinga dan lehernya. Merasakan tangannya dingin menyentuh sabau dan uleg yang anggun menonjolkan kecantikannya. Ia bayangkan ketika upacara menua yang sakral itu menyatukan hati mereka.








Dengan mesra, kang Ikot, suaminya memasangkan sabau dan uleg itu di iringi tepuk tangan yang meriah dari kaum kerabat yang memenuhi lamin. Ia tertunduk malu, sementara irama sampek yang syahdu semakin menerbangkannya ke awan khayalan .
“Tiddaaaakkkkkk!!!”
Ia berteriak ngeri, ketika harapan itu hancur berderai seumpama kaca yang pecah. Darah yang membanjir dari kepala yang terpenggal itu membuat kepalanya mendadak pusing. Sebelum tak sadarkan diri, Ia mendengar suara bising menusuk telinga. 

“Pasti ini perbuatan Madura - Madura sialan itu!”
“Mereka memang kurang ajar.“
“Tak punya perasaan!”
“Kita tak akan membiarkannya …”
Sejak hari itu, tanpa ia sadari, kebencian itu memenuhi rongga dadanya. Ia benci pada apapun dan siapapun yang berdarah Madura. Kebencian yang demikian kuat menindih hati dan perasaannya
Setiap hari, diasahnya mandau pusaka peninggalan suaminya tanpa ia mengerti: untuk apa ia melakukan itu?!

Orang – orang menatapnya tak mengerti. Tapi seolah tak perduli, Ia terus mengasah mandau itu hingga kilatan matahari membayang dalam cerlangnya.
“Sudahlah, nak! Raying mahata langit tak akan menutup mata. Biarkanlah arwah suamimu tenang di lawu tatau. Dendam itu tak ada gunanya, nak.Ujar ibunya sambil memeluk tubuh ringkih perempuan itu. Ia hanya menatap kosong dengan pandangan datar.
“Kasihanilah Ngo, anakmu! Ia membutuh kasih sayangmu … “
Perempuan itu mendesak risau. “Ibu tak mengerti bagaimana rasanya kehilangan!”
“Tidak, nak! Ibu mengerti! ketika ayahmu meninggal, ibupun merasa demikian kehilangan …”
“Tapi kang Ikot?!”
Perempuan itu tersedu. Merasakan nyeri yang menusuk sampai ke jantungnya. Air matanya menitik membasahi pipinya yang cekuh. Kehampaan itu semakin dalam menyelimuti sukmanya yang membeku.

“Kang Ikot dikayau, mak! kepalanya di penggal! Dan pembunuh – pembunuh itu masih berkeliaran.” Perempuan itu menatap liar. Menghapus air matanya yang menganak sungai.”Suatu saat … mereka akan membunuh mak, membunuh saya, dan membunuh… Ngo!” Ia mulai tersedu. Pandangannya semakin liar dan bengis. Namun sekejap kemudian Ia terpekik.

“Ngo?! Ngo di mana, Mak? Ngo di mana? Mereka akan membunuh Ngo. Ngo! Ngooo!” Perempuan itu menjerit, merasakan kekhawatiran memenuhi rongga terdalam hatinya.
“Ngo! Ngooo! Ngooo!” Ia berlari – lari. Tak perduli kakinya berdarah –darah dan pecah.
“Kembali, nak! Ngo tidak apa – apa!”
“Ngooo! Ngooo!” 

Ia terus berlari – lari. Sampai Ia menemukan Ngo di berada lamin dengan seorang wanita berpakaian aneh. Seluruh tubuhnya ditutupi kain, kecuali kelopak tangannya dan wajahnya yang putih bersinar. Ia rampas Ngo dari dekapan wanita itu, menciumnya. Memeluknya erat – erat.
“Mak, ini Ibu gulu, Ngo!” Ujar Ngo tertawa. Wajahnya menyiratkan kekanakan yang rembulan. Wanita berpakaian aneh itu tersenyum ke arahnya.
“Nama saya Wardah. Saya mengajar di sekolah yang baru di bangun itu.” kata wanita itu lembut seraya menunjuk sebuah bangunan baru yang terletak beberapa meter dari lamin yang di tempatinya. ”Ngo adalah murid saya. Ia cerdas sekali. Oh, yah, nama kamu siapa?!”
Perempuan itu menyebut namanya, kemudian berlalu begitu saja. Demi jata, Ia bisa menangkap kelembutan yang dalam dari ucapan dan rona wajah wanita itu. Tapi Ia tak ingin akrab dengan wanita itu. Wanita itu pendatang, dan bukankah pendatang hanya memperkosa harta dan hak- hak orang Dayak?!

Beberapa hari kemudian, Wanita itu berkunjung kerumahnya membawa Kalo-kalo dan makanan lain yang belum pernah di lihatnya. ”Untuk Ngo …” katanya lembut. ”Wajah Ngo mirip sekali dengan adik saya di tanah Bima nan jauh di NTB sana. Saya kangen sekali padanya, dan hanya Ngo yang bisa mengobati kekangengan saya …
“Jadi kamu bukan Madura ?!” Wanita itu menggeleng. Ada kelegaan yang terpancar di wajah perempuan itu.
“Lagi pula, apa bedanya saya Madura, Dayak atau apapun. Bukankah semua kembali kepada kita sendiri, mau jadi orang baik atau jahat. Oh… maaf, saya tidak bermaksud menggurui…”
Perempuan itu menatap parau dan mulai memikirkan, bahwa apa yang dikatakan Wanita itu adalah benar. Di mana– mana akan kita temui orang baik dan jahat. Dan itu tidak bergantung suku mana ia berasal. Entah kenapa, ia menjadi kagum pada wanita bersahaja itu.

“Kamu bukan Helu?”
“Saya muslimah. Islam!”
Kemudian wanita itu bercerita banyak padanya tentang agama yang di anutnya. Ia mendengarkan dengan takjub. Ia tangkap kebenaran dari setiap ucapan wanita itu. Jiwanya yang kosong terisi oleh entah apa. Ia peluk wanita itu,dan menangis tersedu – sedu di pundaknya.Setelah hari itu, mereka seperti saudara kandung. Sesekali, perempuan itu membawakan kalo-kalo untuk wanita itu di sekolah yang semakin banyak penghuninya.
Sampai suatu hari, perempuan itu berteriak histeris menyaksikan jiwanya yang koyak. Lamin wanita itu terbakar dan musnah di lilit api. Ia terpekik melengking. 

“Ngooo! Wardah…! Ngoooo!”
Matanya yang keruh sempat menangkap kehidupan yang hampir sekarat dalam lamin itu, sampai semua roboh menjadi arang.
“Ngo bersama wanita itu. Ngooo! Ngooo!” 

Perempuan itu tak mampu menahan gejolak dadanya. Ia menangis meraung-raung. Seperti ada ratusan, bahkan ribuan madau yang menusuk jantungnya. Setelah api memadam, Ia menemukan wanita itu dan Ngo di antara puing-puing rentuhan yang telah arang. Wanita itu melidungi Ngo dengan punggungnya yang hangus terbakar. Ngo langsung menangis memeluk perempuan itu.

 

“Ibu gulu, Mak! Ibu gulu … huk… huk… huk… Ibu gulu telbakal, Mak!”

Susah payah Ia bangkit. Tak perduli kakinya melepuh menginjak arang yang membara. Ia mengendong Ngo dan menyeret mayat wanita itu yang menghitam. Air matanya mengalir deras. Memayungi kelopak matanya yang cekung. Wajahnya kaku tanpa ekspresi.

Tak dapat ia pajang perasaannya, ketika mata keruhnya memandang ribuan kepala yang mengeluarkan amis yang memualkan. Kepala-kepala itu ada yang dipajang di atas galah, dipermainkan seperti bola, bahkan dimakan anjing liar. Ada yang bergetar kuat dalam dadanya. Getar yang nyeri.

 

“Apakah kau madura ?!”
“Bukan , lagi pula apa bedanya saya Madura, Dayak atau apapun , bukankah semua kembali kepada diri kita masing-masing.”

“Kamu bukan helu? “

“Saya muslimah. Islam!”
“Bisakah saya masuk Islam?”

Perempuan itu masih berdiri diatas lamin yang telah arang. Ia terus di sana. Sampai malam datang menjemput, sampai ingatannya berlayar pada wanita itu. Sampai Ia tertidur dalam balutan mimpi-mimpi hitam.
“Mak! Ibu gulu dimana?” Ujar Ngo terjaga.
“Ia telah terbang, nak. Bersama malaikat-malaikat.”
Perempuan itu menatap rembulan merah yang redup membias di atas langit dengan nanar. Sepi itu menghujat .

“Bu gulu akan pulang kan, Mak ?!”
Susah payah Ia tata hatinya. Setitik air matanya jatuh lagi. Entah esok, entah lusa. Ia berharapan menemukan lagi jalan kasih itu, Cahaya penuh cinta itu. Seperti kasih yang di tebarkan wanita itu dalam kelam jiwanya. Ia akan menemukan jalan itu. Jalan dimana ia akan diberikan hidayah dan petunjuk oleh Allah. Setelah sembuh segala luka. Setelah sepi ini pergi.
Rembulan merah di atasnya…, semakin meredup.

Dorowila, 19 Desember 2001

Keterangan (Bahasa Dayak)
1. Lamin = Rumah panjang orang dayak.
2. Jata = Tuhan penguasa langit.
3. Dikayau = Dipenggal kepalanya.
4. Upacara Manua = Upacara pernikahan.
5. Sabau = Anting dari manik.
6. Uleg = kalung manik.
7. Sampek = Sejenis gambus bersenar tiga.
8. Mandau = senjata tradisional suku Dayak.
9. Raying Mahata Langit = tuhan penguasa langit.
10. Lawu Tatau = Syurga.
11. Kalo-kalo = makanan khas Kalimantan Tengah.
12. Helu = Agama paling dulu yang dianut suku Dayak Ngaju.

3 Response to "Di Bawah Redup Rembulan Merah"

  1. Anonymous Says:
    7:58:00 AM

    Penulis adalah pemenang utama dari WSC Inspirational Public Figure ... Wow!

  2. Anonymous Says:
    8:22:00 PM

    ceritanya mengalir indah. jadi pengen belajar :)

  3. Akhi Dirman Al-Amin says:
    12:31:00 PM

    thanks semuanya :)