Oleh Khoirotul Ula
Seutas tali putih, menggantung dalam rona baju birumu. Telihat samar, tapi tampak memperindah hiasannya. Dandananmu yang ayu, membuatmu sepuluh tahun lebih muda dari aslinya. Dengan ditemani tas jinjing dan sapu tangan mahal, kau kenakan selendang warna biru muda itu dan berkipas-kipas ria. Perawakanmu bagaikan priyayi, yang setiap harinya hanya sibuk merawat tubuh.
Aku tak mau menjadi durhaka dengan tidak mengakuimu sebagai ibuku. Tapi melihat tingkahmu, aku selalu merasakan kekesalan. Kenapa kau tidak seperti wanita-wanita lain? Kuakui kau memang cantik. Dan betapa beruntungnya lelaki yang sekarang terbaring di atas ranjang usangnya itu pernah menjadi suamimu.
Sejenak kau melirikku. Aku paham, kalau wajahku ada sedikit kemiripan denganmu. Meski kulitku tak sehalus kulitmu, setidaknya aku mewarisi warna putih kulitmu. Aku sedikit merasa senang dan tersipu saat kau menyuruhku mengambilkanmu minuman. Tapi, rasa senangku kontan berubah menjadi kekesalan ketika kau perlakukan aku layaknya jongos di rumahku sendiri.
Kami mengerti, kau sering mengunjungi kami dan memberikan uang pada kami. Tapi bukan berarti kau perlakukan lelaki itu sedemikian remehnya. Dia bukan pengemis. Kami pun bukan pengemis. Kami sudah merasa sedikit bahagia dengan rizki yang Tuhan limpahkan pada kami. Meski kami harus tertatih-tatih mengaisnya. “ Kenapa kau begitu tega?” desahku dalam hati.
Aku dudukkan lelaki itu. Ku antarkan jahe hangat ke mejanya. Lalu kau ngobrol dengannya sambil menyibakkan rambut indahmu. Seraya bersuara lantang kau katakan padanya kalau kau akan mengiriminya uang setiap minggu. Aku mengerti kau cukup iba pada kami. Tapi gayamu yang congkak itu perlahan membuatku sedikit membencimu. “Ingat Nyonya, laki-laki di depanmu adalah suamimu.” Jerit batinku seakan ingin memperingatkan kelakuanmu.
Lelaki itu telah meminum jahenya. Sedikit lega tenggorokan kering itu. Paru-parunya yang sudah mulai meradang, menghambatnya untuk bekerja lebih keras lagi. Dan kau melihatnya yang tak berdaya itu, mengulurkan kakimu pada bangku yang ia duduki. Kau perintah dia untuk memijat kakimu yang mulus itu. Kau mengeluhkan rasa capek. Berkunjung dari salon sana ke salon sini. Mengikuti kontes kecantikan bak putri raja. Seberapa sakit rasa capekmu itu dibandingkan penyakit yang sekarang menggerogotinya ?. “Kau tetap saja manja, seperti dulu.” Ucap lelaki itu itu padamu. “ Aku begini, karena aku memang pantas untuk dimanjakan” Jawabmu sambil tertawa terbahak-bahak. Seolah-olah kau mencemoohnya, karena kekurangannya.
Aku muak melihat tingkah lakumu. Namun, aku semakin heran dengan lelaki itu. Mengapa dia tak bergeming untuk marah padamu sama sekali. Bukankah harga dirinya sebagai laki-laki telah kauturunkan jauh di bawah alas kakimu. Apakah karena dia tak bisa lagi memberimu nafkah lahir dan batin, hingga ia menurut saja apa katamu. Atau karena kau menyihirnya supaya dia bisa kau jadikan jongos buatmu. Atau karena hal lain yang seharusnya aku tak boleh tau. Apapun alasan lelaki itu, aku tetap tidak suka. Aku benci kelakuanmu, aku juga heran menghadapi lelaki itu. Setiap kali aku mengadukan tingkah lakumu padanya. Dia malah membelamu, dan akhirnya dia memarahiku, melarangku berkata begitu, takut aku durhaka katanya.
Beberapa menit kemudian. Seorang lelaki paruh baya turun dari mobilnya yang mewah. Berparkir tepat di sebelah mobilmu yang mengkilap itu. Lalu dia masuk, tersenyum padaku. Duduk di beranda rumah. Aku mendekat, kutatap dia dengan penuh tanya. “ Maaf, ada yang dicari Pak, ?” tanyaku bersikap semanis mungkin terhadap orang yang baru kukenal. “ Ya, saya sedang menunggu Sonya, dia di sini kan?” Jawabnya enteng. “ Iya, Ibu Sonya ada di sini. Bapak siapanya ya…?” Tanyaku lagi, tapi kali ini aku sedikit curiga. Lelaki ganteng itu belum juga menjawab. Pikirku dia masih mencari-cari jawaban di langit-langit rumahku. “Em…., kenalkan Saya Fandi, calon suaminya Sonya. “Jawabnya tersenyum manis.Dar, jantungku serasa berhenti berdetak. “ Hah, Kau mau menikah lagi?” Jeritku dalam hati. Aku masih berusaha menetralkan diri. Aku tidak ingin semua orang tahu latar belakangmu yang sekarang telah naik daun, menjadi model terkenal. “ Oh, Bapak ini calon suaminya Bu Sonya, ?“ “ Lalu Adek ini siapa ya…?” Dia balik bertanya terlihat keheranan, seperti melihat tanda-tanda kemiripanku denganmu. Belum sempat aku menjawab, Kau keluar dari ruang tamu. “ Dia ini pembantu saya Mas, lelaki yang duduk di sana itu ayahnya. Trus anak perempuan manis yang sedang menyapu itu Riana, adiknya Erin, pembantuku juga.” Jawabmu menyela. “Sungguh pandai Kau bersandiwara” gerutuku dalam hati.
Kenapa kau setega itu pada kami. Lalu Kau panggil Riana, adikku “ Riana, cepat kemari, tolong bikinkan Mas Fandi minuman” perintahmu dengan gaya elegan. “ Iya, Nya…” Jawab Adikku menunduk. Aku tak sabar melihat tingkahmu. Belum sempat aku menghindarimu, kau sodorkan beberapa daftar pekerjaanku minggu ini. “ Erin, ini daftar kebutuhan rumah saya yang harus kami beli. Nanti kalau saya balik, saya minta semuanya sudah beres” Perintahmu. Ingin rasanya aku keluar dari belenggumu, tapi lelaki yang selama ini tinggal bersamaku bersikukuh menyuruhku membantumu. Tepatnya menjadi jongosmu.
“ Iya Nyonya Sonya yang terhormat” Jawabku memaksakan senyum dan pujian sesopan mungkin. Kau pun tersenyum bangga sambil melirik pasangan barumu itu. “ Mas Fandi, maaf ya, saya kesini cuma menjenguk ayahnya Erin yang sedang sakit. Karena itu Erin dan Riana nggak bisa masuk kerja sekarang. Rencananya saya mau nyuruh Riana jaga rumah, biar Erin aja yang jagain bapaknya. Saya harus mengizinkan mereka berdua bergantian kerjanya tanpa harus mengurangi gaji” Kau mulai berapologi pada calon suamimu yang ganteng dan kaya raya itu. “ Ndak Papa kok Sonya sayang, aku justru malah senang kamu tetap baik hati meskipun kamu sekarang telah menjadi model terkenal” Lelaki itu menjawab kalem. Betapa lugunya Pak Fandi. Padahal Kau ini wanita yang selalu bermuka manis di depan lelaki, tapi dibelakangnya Kau berselingkuh dengan orang lain.
Dulu, lelaki yang sekarang masih menjadi suami yang kau suruh-suruh itu pernah tertipu oleh wajah manismu. Aku bingung, apakah aku harus merasa beruntung karena dilahirkan dari rahim wanita secantik dirimu. Atau malah menyesal karena terpaksa lahir dari kandunganmu. Pun lelaki itu selalu memaksaku untuk memanggilmu ‘Ibu’. Padahal kau sendiri tidak sudi memperkenalkanku dan Riana sebagai anakmu. Justru Kau kenalkan kami pada calon suami barumu itu sebagai jongos.
Sebenarnya, Aku takut menghujatmu bahkan memarahimu. Biar bagaimanapun Kau adalah Ibu kandungku dan Riana. Meskipun demikian kekesalanku terhadapmu semakin hari semakin menjadi-jadi. Bukan karena Kau remehkan kami. Tapi karena Kau sama sekali tidak menghargai lelaki yang selama ini merawat dan mendidik kami. Dia lelaki yang sangat sabar. Baik hati dan penyayang. Tapi sayang, dia telah sakit-sakitan. Karena tingkah lakumu yang kadang tidak malu itu, aku harus menelan pil pahit, sebagai pembantu model yang harus sering membukakan pintu untukmu tiap tengah malam.
Demi untuk melangsungkan hidupku, bagiku tidak masalah bila aku harus bekerja sebagai jongos. Namun masalahnya kenapa harus padamu. Jika aku berkewajiban berbakti padamu, bukankah Kau juga berkewajiban membesarkan kami?. Betapa teganya Kau pada kami?. Aku pun tak habis pikir, dimanakah nuranimu sebagai Ibu?
Kau menyeretku ke dalam. Mengajakku bicara panjang lebar dan mengancamku agar tidak membuka kedokmu pada siapapun. “Erin, gaji yang kuomongkan tadi tidak ada. Dan tak akan pernah ada. Jadi kamu dan adikmu tak kan mendapat upah apa-apa kecuali makan buatmu dan bapakmu. Jangan pernah bilang pada siapapun tentang asal-usulku. Kalau tidak, nyawa lelaki yang sekarang sekarat itu taruhannya” hardikmu padaku. “ Kau ini wanita atau iblis?” Batinku. “ Iya, aku harap Kau cepat sadar Nyonya Sonya yang terhormat. Semoga Tuhan selalu menolong Kami” Kataku padamu.
Tiba-tiba saja Pak Fandi masuk ke ruang tengah dimana Kau mengancamku. “Sonya, apa yang Kau lakukan padanya?” Tanyanya keheranan. “ Aku hanya memperingatkan dia agar dia tidak lalai dengan tugasnya Mas,” Kilahmu. Aku rasa inilah saat yang tepat untuk mengatakannya, apapun resikonya. Tapi, terpaksa kuurungkan niatku demi bapak dan adikku. Suatu saat nanti Kau akan tahu, bahwa kami juga bisa menuntutmu. Mengaku pada orang-orang disekitar sana bahwa Kau adalah istri lelaki sakit-sakitan itu. Agar semua orang tahu kalau dari Kami lah kau berasal. Keluarga kecil nan miskin ini.
Esoknya calon suami barumu datang ke rumahku. Curiga akan kelakuanmu padaku. Sampai hal yang selama ini kau rahasiakan terpaksa kukatakan padanya. Aku tak tahu apa yang akan dilakukannya padamu. Sejatinya aku sangat menyayangimu, aku tak ingin kau hancur. Tapi keadaanmu sekarang ini sangat menyiksa kami. “Ingat nyonya!” keluhku dalam hati.
Tahu kalau aku dan Riana adalah anakmu, dan kau masih bersuami, lelaki itu membatalkan pernikahannya denganmu. Di satu sisi aku bahagia, tapi di sisi lain aku juga sedikit kasihan padamu. Tak kusangka ancamanmu ternyata bukan main-main. Kau seret aku dan Riana menuju mobil mewahmu. Kau kurung Kami dalam gudang rumahmu yang mewah itu. Tak kau kasih kami makan. Kau tegakan kami tidur ditemani tikus-tikus kelaparan. Apa Kau sengaja membunuh kami, sebagai mangsa tikus-tikus itu. Aku tak jera nyonya. Apapun yang kau lakukan, aku sudah pasrah. Tapi ingat Nyonya, Kami ini anakmu. Anak yang seharusnya kau rawat, agar kelak bisa merawatmu di hari tuamu. Kalau banyak orang mengatakan, seorang anak yang durhaka pada orang tuanya, hidupnya akan celaka. Akupun sedikit berharap Kau mendapatkan pelajaran hidup_kalau enggan mengatakan ‘celaka’_ karena telah menyianyiakan kami.
Lewat kuasa Tuhan, aku dan Riana terselamatkan. Ternyata perbuatan aniayamu diketahui Pak Fandi, calon suamimu yang gagal itu. Dia melaporkanmu pada polisi. Akhirnya kau tertahan oleh aparat hukum. ‘Ibu’ haruskah kau menjalani hari-harimu dalam bui?. Batinku menjerit. Walau aku benci padamu tapi aku tetap tak berani mendoakan yang terlalu buruk untukmu.
Sejak itu, karirmu hancur. Kau sudah tak punya siapa-siapa lagi. Kecuali kami. Jauhkan dirimu dari kecongkakanmu itu. Tentu kami akan berusaha menerimamu. Biar bagaimanapun “ Kami ini tetap anakmu, Nyonya…!”. [ ]
Diselesaikan di Surabaya, Ahad 16 Mei 2010 10:35
0 Response to "Kami ini Anakmu, Nyonya….!"
Post a Comment