Diorama Kepedihan

Oleh: Muhammad Taufiq


John! bluqudugh ... bluqudugh ....”
Oh, bluqudugh ... bluqudugh ...”
Begitulah kira-kira yang saya dengar ketika seorang turis dari Belanda sedang bercakap dengan rekannya. ”Saudara” saya tersebut begitu bergaya dengan kamera aneh lengkap dengan penyangga yang ia tenteng. Plus celana di atas lutut yang sengaja mempertontonkan bulu-bulu di kakinya.

Saya bertemu mereka di Museum Kereta Api Ambarawa atawa Ambarawa Steam Locomotive Museum, hari ini tanggal 22 Juli 2008. Saya bersama saudara satu halaqoh1] yang saat itu sedang mengantar ”kepergian” alias mutasi salah satu saudara yang kebetulan tinggal di Ambarawa-Semarang.

Kami –terutama saya– sangat menikmati perjalanan kali ini. Saya seakan dibawa ke masa lalu. Masa lalu dimana nenek moyang saya yang bekerja membangun stasiun ini atas perintah Raja Williem I dari Belanda. Masa lalu dimana nenek moyang saya berjihad melawan penjajahan. Dipaksa membuat jalan tembus Anyer-Panarukan. Masa lalu dimana kami dipaksa harus membayar belasting –pajak hasil rakyat untuk pemerintah Belanda. Sementara kami hanya menikmati sedikit sekali dari jerih keringat yang kami cucurkan. Karena rempah-rempah hasil panen kami telah mereka angkut untuk kemakmuran mereka. Lalu mereka sok baik dengan politik balas budi mereka. Rasanya seperti harus membayar keringat yang kami cucurkan untuk kami minum!

Selubung Dosa Melingkup Nurani

Oleh: Fauziah Rahmawati

Dia memukuliku, tangisnya pecah ketika sadar aku ada. Mengapa dia malah sedih. Apa salahku hingga hatinya tak berkenan jika aku muncul di hadapannya.
Sebenarnya itu juga bukan mauku. Kau yang memaksaku ada, kau yang menyebabkan diri ini terbentuk. Karena perbuatanmu itulah kini aku harus ada di sini. Terkurung dalam sepi.
Setiap hari harus menerima perlakuan yang tak semestinya. Tak jarang perutku lapar, ini karena kau lupa memberiku makan. Lupa atau memang sengaja? Bahkan terkadang aku harus rela memasukkan makanan pahit itu ke mulutku.
Kurang uangkah kau, hingga tak memberiku makan. Untuk apa uang sebanyak itu dari orang tuamu. Tak jarang kau habiskan uangmu untuk ke salon dan klub malam. Ironis sekali kalau kau tak mampu memberiku makan.

Pagi ini seperti biasa, aku tetap dalam sepi. Rasa lapar ini tak sanggup kutahan.
May ini kubelikan nasi, makanlah walau sedikit saja. Kasihan ia, sudah dua hari ini tak kau beri makan,”terasa belaian lembut dari tante Hera. Ia yang selalu perhatian padaku.
Aku belum lapar! Lagian aku memang ingin dia mati. Aku tidak ingin melihat wajahnya di hadapanku,”perempuan itu memukuliku lagi.
Jangan lakukan itu May, kasihan dia. Biarkan dia hidup!”tangan tante Hera menjauhkan tangan jahat itu dari diriku.

Anak Lelaki

Oleh: Rainiku

              Anak lelaki itu berdiri di depan emperan toko. Dia memainkan seruling. Indah. Indah sekali. Tak sampai beberapa menit banyak orang yang mengerumuninya. Ada orang yang ingin mendengar permainannya atau banyak orang yang hanya ingin mengetahui ada apa dengan kerumunan itu. Anak lelaki itu tetap tenang. Permainan serulingnya semakin menggebu, semakin indah. Dia memainkan berbagai jenis lagu. Klasik, pop, lagu nasional, lagu anak-anak, bahkan campur sari. Tiap kali dia selesai memainkan satu lagu, tepuk tangan penonton riuh rendah. Dia membungkuk tanda penghormatan. Penonton semakin membludak. Ada sekitar 30 orang bahkan lebih.
              Anak lelaki itu berumur kisaran 12 hingga 14 tahun. Rambut lusuh. Kaki dekil. Baju camping. Bau anyir. Kacamata hitam terlalu besar. Namun, permainan serulingnya luar biasa indahnya.
              “Bapak-bapak, Ibu-ibu, Adik-adik, Kakak-kakak, terima kasih sudah mau melihat saya bermain.” dia mulai angkat bicara setelah merasa jika banyak yang mengapresiasi permainannya.
              Izinkan saya untuk berbagi ilmu di sini. Sebab semua di dunia ini adalah ilmu. Saya bermain seruling, memindahkan not satu ke yang lainnya juga sebuah ilmu. Saya bisa memainkan nada Bethoven, Peterpan, Indonesia Raya, Balonku bahkan Sewu Kutho. Itu semua karena ilmu. Lihatlah ini! Ini sebuah kotak ajaib. Ilmu-ilmu yang saya miliki terangkum di sebuah kotak hitam ini. Jangan bayangkan ini kotak sulap. Sulap yang sering tampil di televisi dengan bermacam-macam nama. Atau sulap yang bisa membuat orang lupa akan dirinya atau sulap yang membiarkan pikirannya dibaca oleh orang lain! Ini berbeda Bapak, Ibu, Adik, Kakak…” dia berkicau sambil membawa kotak hitam itu ke arah penonton. Dia tersandung-sandung bahkan sesekali menabrak penonton. Berkali pun dia bilang maaf pada apa yang disentuhnya.
             

Dalam Pasungan Setan

Oleh: Fauziah Rachmawati

Prang…
              Kuaduk-aduk laci di depanku. Nihil! Benda itu tak ada! Kukeluarkan seluruh isi lemari, tas dan rak. Sialan! Kemana dia?
Deg…mataku tertuju pada tempat tidur yang tak lagi rapi. Ya! Dia ada di sana! Kusingkirkan sprei yang menutupi busa nampak plastik yang berisi serbuk putih. Serbuk penyelamatku.
Segera kuambil benda itu, kuhisap dan tidak sampai satu menit kurasakan gelombang hangat menjalar dari pinggang bagian bawah seperti sensasi “sibuk” yang meluncur menuju sistem syaraf pusat. Sebuah sensasi ketenangan yang dalam yang menyelubungi diri dengan cepat.
Ehmm.. ketenangan seperti inilah yang kuinginkan!

Dok dok dok...
”Siapa sih yang ganggu?! Seperti nggak ada waktu lain saja!
”Siapa?” teriakku.
”Aku, Doni!” mau apa anak ini.
”Ada apa Don? Aku masih ganti pakaian.”kataku bohong.
”Nggak aku cuma mau bilang, barusan aku dapat SMS dari Ratna. Jadwal Pak Rahmat diajukan satu jam lagi,” katanya dari balik pintu. Kok mendadak banget?
”Siap-siap Pram, sebentar lagi kita berangkat,”
”Ok...”

Kemelut Yang Tak Berujung

Oleh: Fauziah Rachmawati

Pecundang!             
Kau! Haruskah aku mengemis padamu? Mencium tanganmu? Bersujud di hadapanmu? Atau jatuh tersungkur di ujung jari kakimu? Hanya untuk berucap, kembalilah padaku.
Tak ingatkah kau akan rajutan kenangan yang telah terbina? Tak sadarkah, jika kau telah mengisi hariku seperti pantai yang kena abrasi? Kutatap bola matamu. Mata yang membuat banyak gadis terpikat. Retina yang menyimpan berjuta pesona.
Saat ini kau memang duduk di depanku. Tapi matamu menerawang. Apa yang kau pikirkan? Bisnis yang kian merosot? Investor yang mulai berkurang? Atau wajah anak istri yang setia menunggu hadirmu?
Ramainya suasana kafe tak mempengaruhi sikap kita berdua. Diam tak bergeming hingga aku dapat mendengar alunan nafasmu.

“Bagaimana Joe?” hatiku tergerak untuk memulainya.
Sikapnya belum berubah, tanpa ekspresi. Tangannya dari tadi mengaduk jus melon, tak hendak meminumnya.
“Joe, jangan diam saja!” paksaku.
Posisi duduknya mulai bergeser. Wajah yang semula beku kini mulai mencair. Seulas senyum tersembul di atara bibir tipisnya.
“Kita menikah!” katanya.
“Kamu serius?” aku tak percaya perkataannya.
“Ya, kita menikah.”
“Istrimu?” tanyaku.
“Itu masalahku, biar kuselesaikan.” Dia menyakinkanku.

Laung Mudigah

Oleh: Fauziah Rachmawati


“Hentikan!” mereka mencoba memisahkan kami.
“Ini bukan jalan yang biasanya kulalui! Mau dibawa kemana diriku?” alat ultrasonografi transvaginal menghipnotis, memaksa diri ini dan beberapa teman mengikuti kemauannya.  Kami mencoba untuk melawan, namun sepertinya usaha kami sia-sia.

Mengapa perempuan ini tetap diam! Tak merasa sakitkah dia? Dua orang lelaki berkacamata itu memaksaku untuk keluar. Semburat cahaya lampu menyusup hingga menyebar dalam ruangan ini. Dinding-dinding yang setia menemaniku dalam kesendirian. Sinar itu dengan cekatan membawaku keluar.
“Bagaimana sudah keluar?”tanya lelaki itu pada perempuan sebelahnya.
“Sudah,” jawabnya singkat.
“Oke, siapkan cawannya,” perempuan berpakaian warna hijau itu membawa cawan petri yang bermedia. Dengan bantuan mikroskop khusus, dia memperlakukan diriku dan teman-teman dengan hati-hati. Beberapa saat kemudian ratusan sperma disebar di sekelilingku.
Di sebelah, nampak lelaki berkacamata sedang menyiapkan sebuah kotak khusus berbentuk tabung, sebuah lemari elektronik yang mempunyai suhu, kelembaban, dan gas-gas lainnya, layaknya rahim bundaku.
              Ratusan sperma berenang menuju arahku, mereka mencoba menempus dinding pertahanan yang kubangun puluhan tahun. Cukup lama, tak sedikit dari mereka yang tak berhasil dan akhirnya putus asa.
              “Hei jangan mendekat! Dia milikku!” teriak salah satu dari mereka.
              “Siapa bilang? Sebelum ada salah satu dari kita yang berhasil menembusnya, semua berhak untuk berusaha menggapainya,” timpal yang lain.
“Sudah jangan berisik! Sekarang adalah pembuktian siapa yang terkuat dari kita semua!”
“Ya benar, jadi lakukan yang terbaik selagi kita punya kesempatan,”
              “Ada apa dengan mereka? Begitu berartinyakah diriku ini?” gumamku.
Ups, tatapan itu! Sorot mata yang membuatku beralih padanya. Senyum yang terbias menyisir sukma. Dia adalah salah satu dari ratusan sperma yang berusaha menembusku. Kurasakan getaran itu, getaran yang telah lama tak menyapa. Kusunggingkan senyumku, semoga dia tidak patah semangat.
             

VIRTUAL LOVE

Oleh: Fauziah Rahmawati

Bruuaakk!

Kulemparkan tas warna ungu ke atas kasur. Kurebahkan tubuhku yang mulai layu. bukan karena capek ataupun lelah, namun karena ada sebuah dilema yang sedari tadi menggerogoti perasaan, seakan tak mau pergi. Hendak berdiam diri di naungan jiwa ini. Memaksaku menerima semuanya dan butuh perjuangan untuk melawannya.

Ibu, Ibu kok tega sih nglakuin ini semua kepadaku? Akukan sudah bilang nggak mau, tapi kau terus memaksaku dengan berbagai alasan. Kejadian tadi siang masih terekam bagus di sudut memoriku. Berjejal-jejal bersama rumus-rumus yang harus kuhapal dalam satu pecan ini. Semua melebur menjadi satu hingga membuat perutku mual dan ingin muntah.

Tak terasa air mata ini jatuh membasahi pipi. Malam yang dingin, rasanya tak cukup untuk membuat hatiku menjadi dingin. Hampa menggeliat dalam relung hati, menerawang melayang mencari kebebasan. Namun tubuh ini terasa enggan melawan, diri bagai terkurung dalam jeruji besi.