Oleh: Muhammad Taufiq

”John! bluqudugh ... bluqudugh ....”
”Oh, bluqudugh ... bluqudugh ...”
Begitulah kira-kira yang saya dengar ketika seorang turis dari Belanda sedang bercakap dengan rekannya. ”Saudara” saya tersebut begitu bergaya dengan kamera aneh lengkap dengan penyangga yang ia tenteng. Plus celana di atas lutut yang sengaja mempertontonkan bulu-bulu di kakinya.
Saya bertemu mereka di Museum Kereta Api Ambarawa atawa Ambarawa Steam Locomotive Museum, hari ini tanggal 22 Juli 2008. Saya bersama saudara satu halaqoh1] yang saat itu sedang mengantar ”kepergian” alias mutasi salah satu saudara yang kebetulan tinggal di Ambarawa-Semarang.
Kami –terutama saya– sangat menikmati perjalanan kali ini. Saya seakan dibawa ke masa lalu. Masa lalu dimana nenek moyang saya yang bekerja membangun stasiun ini atas perintah Raja Williem I dari Belanda. Masa lalu dimana nenek moyang saya berjihad melawan penjajahan. Dipaksa membuat jalan tembus Anyer-Panarukan. Masa lalu dimana kami dipaksa harus membayar belasting –pajak hasil rakyat untuk pemerintah Belanda. Sementara kami hanya menikmati sedikit sekali dari jerih keringat yang kami cucurkan. Karena rempah-rempah hasil panen kami telah mereka angkut untuk kemakmuran mereka. Lalu mereka sok baik dengan politik balas budi mereka. Rasanya seperti harus membayar keringat yang kami cucurkan untuk kami minum!
1 comments





